Sejarah Batu Pertama Masjid Agung Demak

Posted: Agustus 24, 2011 in SEJARAH

Sebuah pahatan tangan yang sangat indah dengan guratan lembut berbentuk 399 asma Basmallah, diyakini sebagai batu peletakkan pertama dalam pembangunan masjid Agung Demak. Bentuk sebuah ornamen sejarah yang terlahir dimasa kejayaan Wali songo, untuk masa sekarang ini adalah benda langka yang sangat sulit bisa kita lihat. Sebab secara keaslian bentuk, hampir 90% dari artifak yang pernah kita lihat telah rusak ditelan masa. Kisah batu pahatan dengan arsitektur Arabiah, adalah salah satu artifak terbaik pada abad sekarang. Suatu benda langka dengan pahatan yang sangat sempurna lewat tangan terampil seorang Waliyullah Kamil Kanjeng Sunan Kali Jaga. Bagaimakah Kisahnya ?.

Demak, salah satu kota terdapat penduduknya setelah Kudus dan Ampel, dalam mayoritas beragama islam pada kejayaan Wali Songo. Dimana kota ini kian hari semakin hidup dengan maraknya kidung islam dan pengajian menghiasi setiap perumahan penduduk. Namun sayangnya pada masa itu belum ada satupun masjid yang dibangun kecuali hanya sebuah surau kecil milik Sunan Derajat, sebagai basis pengajian yang dikelola oleh Sunan Undung dan Kali Jaga. dengan keadaan seperti ini maka tanggal 27 Rajab tahun Paksi (Jawi) seluruh Waliyullah pada kala itu bermusyawarah, dirumah Sunan Derajat, dipimpin oleh Kanjeng Sesepuh Sunan Ampel Denta. Inti dari permusyawarahan Waliyullah, dirumah kediaman Sunan Derajat, membahas pembangunan masjid Demak, dan sebagai arsitektur bangunannya kala itu sepenuhnya dipercayakan kepada Sunan Kali Jaga. Lewat sebuah kontenplasi yang Misteri lakukan, bahwa, ternyata dalam pembangunan masjid-masjid di zaman sekarang.

Dahulu kala, setiap para Waliyullah, akan membangun sebuah tempat peribadatan umat manusia, pertama kali yang mereka lakukan adalah mencari hawatif kepada Allah, sehingga dalam pelaksanaannya nanti dikaruniai rohmat dan kemanfaatan. Seperti juga yang dialami oleh Sunan Kali Jaga, setelah mendapat mandat dari seluruh Waliyullah, kala itu beliau pergi kepuncak gunung Tidar, Magelang Jawa Tengah, guna mencari hawatif dari Allah SWT, atas pembangunan masjid Demak, yang sebentar lagi dibuatnya agar bermanfaat untuk seluruh umat manusia.

Kisah perginya Sunan Kali Jaga, dalam proses mencari hawatif pembangunan masjid agung Demak, memakan waktu kurang lebih 51 hari dan selama itu pula beliau selalu memahat akar kayu karomah yang sudah membatu (pohon karomah = pohon yang terdapat dalam alam Thurobi / alamnya Nabiyullah Hidir AS) dengan pahatan asma  “Bismillahirohmanirrohim” secara menyeluruh. maksud dan tujuan pahatan disini sebagai simbol dari penghormatan beliau kepada Allah SWT, yang telah menciptakan seluruh alam semesta dengan asma “Bismillahirohmanirrohim”, sehingga pada suatu malam Allah menurunkan Malaikat Jibril dan Mikail, menemuinya dengan membawa kabar yang menyenangkan. Dalam hal ini menurut pemahaman ilmu tauhid dan Tasawwuf dikatakan sebagai sifat Muroqobatul Ahwal ila Musyahadah, yang artinya: Menjaga kedekatan hati lewat jalan ibadah sehingga kedekatan ini menjadikannya tanpa penghalang. Kisah batu pahatan tangan Sunan Kali Jaga, dalam pandangan Waliyullah, mereka menamainya dengan : “Kalimatul Qudrotiyyah” yang artinya : “Tidak ada asma” yang lebih sempurna kecuali batu pahatan Sunan Kali Jaga, yang telah ditashih langsung oleh Allah, dengan turunnya Malaikat Jibril dan Mikail AS.

Bahkan secara pandangan filosofi Wali lainnya, mereka menamainya sebagai Talaqqo’ yang artinya : Setiap pekerjaan manusia yang didatangi langsung bangsa Malaikat, adalah suatu talqim bahwa manusia tadi tak lain adalah orang pilihan yang kesifatan ahlakul Karimah, Nabi Muhammad SAW, yang mana kematiannya kelak Ruh dan Jasadnya digolongkan ahli Arifin / matinya tanpa hisab.

Kisah pembangunan masjid agung Demak, dimulai pada hari Senin, bulan Maulud, tanggal 12 Jawa, mengikuti kelahiran Rosulullah SAW, tepatnya pukul 20, 41 menit, dengan dimulai peletakan batu Basmallah, pahatan dari Sunan Kali Jaga, yang dihadiri seluruh Wali Songo dan Wali lainnya serta bangsa Malaikat langit dan bumi. Lewat perjalanan sejarah, pelaksanaan pembangunan masjid agung Demak, memakan waktu satu malam, tepatnya 8 jam lamanya. Namun sayangnya batu ini dicuri oleh salah satu murid Sunan Kalii Jaga, yang bernama Pangeran Mahesa gunung Sumbing. Dan kisah ini terjadi 29 tahun setelah berdirinya masjid agung Demak. Kisah pencurian batu peletakkan pertama masjid agung Demak, membuat geger seluruh santri kala itu, hampir semua santri Sunan Kali Jaga, tidak menerima dengan perlakuan tak senonoh Pangeran Mahesa, yang dianggapnya terlalu kelewatan. Namun dalam pandangan lain, mereka tidak berani mengusik Pangeran yang satu ini, pasalnya, Mahesa, adalah salah satu santri pilihan yang telah diakui kesaktiannya. Dengan diamnya para santri yang tidak berani mengambil kembali batu tadi, salah satu dari mereka akhirnya menghadap Kanjeng Sunan Kali Jaga, beliau Joko Tingkir, yang sudah 7 tahun mengabdi padanya. Joko Tingkir, minta agar gurunya mengijinkannya untuk merebut kembali batu Basmallah, yang selama ini sudah menjadi bagian dari masjid agung Demak, namun dalam hal ini Kali Jaga, hanya diam dan langsung meninggalkannya.

Kisah hilangnya batu Basmallah, akhirnya muncul kembali 2 tahun kemudian, setelah Sunan Kali Jaga, mendapatkan hawatif : “Bahwa siapapun yang bisa mendapatkan batu tadi adalah orang yang mendampingiku dikemudian hari” (Waliyullah Kamil) kisah ini menjadikan para santri banyak mengadu nasib untuk merebut kembali batu Basmallah pahatan gurunya. Tujuh orang yang dipercayakan Sunan Kali Jaga, telah berangkat mencari keberadaan Mahesa, mereka adalah, ki Duku Wangon, Pangeran Suro, Ki Demang Sentot, Arya Pembangunan, Mahesa Jingga, Pangeran Tumimpu Awang. Dalam pencarian ini memakan lebih dari satu tahun lamanya namun dari kisah perjalanan ketujuh muridnya tidak ada satupun dari mereka yang kembali lagi. Lalu Sunan Kali Jaga, memberi mandat kepada Joko Tingkir, agar membawa kembali batu pahatannya. Dengan segala bekal dan kesaktian yang sudah diajarkan gurunya, Joko Tingkir, akhirnya pergi menyelusuri berbagai tempat pedesaan yang diyakini sebagai tempat persembunyian Mahesa. Dan tepatnya 101 hari dari pencariannya, Joko Tingkir, akhirnya menemukan dimana Mahesa, berada. Bertemunya dua orang yang saling bersebrangan ini menjadi perkelahian tidak bisa dihindarkan lagi, keduanya saling melancarkan serangan dengan jurus ilmu kesaktian yang sama dari satu perguruan. Namun sebagai santri yang sudah lama ikut menjadi murid Sunan Kali Jaga, Mahesa, lebih unggul dalam kegesitan untuk lebih dulu menyerang Joko Tingkir, membuat Mahesa, merasa kewalahan juga menghadapinya. Pasalnya dimana Joko Tingkir, telah babak belur dan darah segar membanjiri tubuhnya, namun sepertinya Joko Tingkir, sama sekali tidak merasakannya. Disinilah yang membuat Mahesa merasa ketakutan, sehingga disaat Mahesa kelelahan, Joko Tingkir, langsung menghujamkan keris Nogo Bumi, keperutnya. Tak ayal Mahesa langsung roboh bermandikan darah segar dan kisah ini terjadi dihutan Panongan, Purbalingga Jawa Tengah, yang kini sudah menjadi kota besar. Kisah pahatan batu Basmallah, akhirnya dibawa kembali ketempat asalnya, Demak Bintoro, namun sebagai langkah kewaspadaan, batu itu tidak ditempatkan pada posisi semula melainkan disimpan secara pribadi. Baru disaat Sunan Kali Jaga, akan meninggalkan jasad kasarnya pulang kehadirat Allah SWT, batu Basmallah karya terbaiknya diserahkan kepada Joko Tingkir, yang sampai ke empat turunannya masih terjaga dengan baik. Cerita batu Basmallah, akhirnya hilang dari peredaran dan baru muncul pada tahun 1959, atas prakarsa dan pembiayaan yang cukup mahal oleh HM, Soeharto, lewat tangan sakti Abah Anom. Dan pada tahun 1979, batu ini raib dengan sendirinya disaat akan dibawa kehadapan Mbah Hamid, Banyu Wangi, salah satu gurunya. Dengan raibnya batu Basmallah, hampir seluruh Paranormal Indonesia diterjunkan guna menarik kembali sarana yang selama ini mendampinginya menjadi orang no 1, Indonesia. Namun sayang, hingga menjelang wafatnya batu ini tetap tidak diketemukan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s