Pulau terbesar dengan penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia ini, tidak menyangka, kalau dahulunya adalah pulau terkecil dan terpecah-belah oleh persilangan laut antara utara dan selatan. Kisah dipersatukannya seluruh pulau yang terdapat di berbagai pulau Jawa, akibat dari kesaktian yang dimiliki oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa. Konon dengan kesaktian beliau, pulau itu ditarik satu persatu menjadi pulau terbesar dan dinamakan Bumi Ing Jowo Dwipo. Semasa pulau ini belum terjamaah oleh manusia, para siluman dari bangsa seleman dan togog telah lebih dulu menduduki hingga ribuan tahun lamanya. Masa itu pulau Jawa disebut dengan nama Mokso Seleman (zaman para lelembut). Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang di hidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (Kebenaran), dan dari keturunannya. Terlahir pula para Shang Hyang Agung, seperti Shang Hyang Citra Suma, Shyang Hyang Dinata Dewa, Shang Hyang Panca Dria, yang akhirnya dari merekalah sebuah titisan atau wasilah turun-temurun menjadi kerajaan teragung yang absolut. Baru diabad ke 12, pulau Jawa diperluas dengan tiga aliran yang berbeda, yaitu dengan adanya ajaran Hindu, mokso Jawi dan Islam. Akhir dari ketiga aliran tersebut nantinya menjadi suatu perlambangan dari perwatakan penduduk pulau Jawa hingga sekarang ini. Dalam perluasan arti ketiga diatas, mencerminkan sebuah kehidupan bermasyarakat gemah ripah loh jinawi. Konon ajaran ini hanya ada di pulau Jawa dan seterusnya menyebar ke seluruh pelosok yang ada di Indonesia, seperti ajaran Hindu misalnya, ilmu yang diajarkan oleh para Shanghyang Dewa, ilmu, sebagai aji rrasa manunggaling agung. Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan di zaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan KaliJaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar. Moksa Jawi sendiri, sebuah ilmu yang mengupas tentang kedigdayaan ilmu yang bersumber dari raj lelembut, bernama raja lautan. ini sangat berperan dan menjadi salah satu perwatakan masyarakat Jawa. Konon ajaran yang tergabungn di dalamnya mengajarkan arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris. Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Beliau salah satu dari Khanjeng Sunan Ampel Denta yang diberi tugas untuk membuat sebilah keris. Namun rupanya, pemahaman dari sang guru dan murid ini saling berseberangan, disisi lain Sunan Ampel menginginkan sebuah pusaka berupa sebilah pedang sebagai perlambang dari makna Islam. Namun ketidaktahuan Ki Supo Mandragini sendiri, akhirnya beliau membuat sebilah keris berluk 9. Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat.

Dari kedua aliran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammad Al Bakhry, dan baru mansyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo. Pembedaran dari keunikan yang terdapat di pulau Jawa pada masa itu, 300 tahun sebelum Wali Songo mendudukinya, para Shanghyang maupun bangsa lelembut seleman telah mengetahui lewat sasmita gaib yang mereka terima, bahwa sebentar lagi pulau Jawa akan dibanjiri para pemimpin makhluk dari berbagai negara. Mereka dari seluruh alam berkumpul, diskusi di puncak Gunung Ciremai, pada masa itu mereka mufakat untuk mengabdi dan membantu, apabila para Waliyullah telah menduduki pulau Jawa. Namun tentunya tidak semua dari mereka setuju, sehingga perpecahan dari dua kubu yang berseberang jalan itu dinamakan Getas Kinatas (terpecahnya satu keluarga atau satu keturunan). Nanti pada akhirnya tiba, dari Shanghyang Rowis Renggo Jenggala, akan menurunkan beberapa keturunan Saktineng Paku Jawa (orang-orang sakti yang menjadi penguasa pulau Jawa) diantaranya :

  • “Arya Bengah ” yang menurunkan para putera Majapahit dan keturunannya sampai putera Mataram.
  • “Ciung Wanara” yang menurunkan Lutung Kasarung hingga sampai ke silsilah Prabu Agung Galuh atau yang dikenal dengan nama Prabu Munding Wangi atau Prabu Siliwangi.
  • “Nyi Mas Ratu Ayu Maharaja Sakti” menurunkan beberapa keturunan berbagai alam diantaranya “Ratu Palaga Inggris, seorang puteri cantik dari bangsa manusia, yang akhirnya dikawin oleh Prabu Siliwangi.
  • “Kerta Jasa” maharaja sakti.
  • “Sang Kowelan” salah satu anak dari Ratu Palaga Inggris yang berjenis bangsa lelembut, dari beliau pula ucuk umum dan Ratu Kidul dihasilkan.
  • Dari “Syekh Sanusi” melahirkan ratusan Waliyullah kondang, diantaranya para Wali Irak, Yaman, Mesir, Turky, dan para Wali Jawa.

Untuk yang berseberangan atau getas kinatas , sebagian dari mereka memilih ngahyang (raib) dan tak pernah muncul lagi di permukaan bumi dan sebagian lagi mereka mengabdi dengan lewat menjaga semua alam di pulau Jawa. Diantara yang mengabdi adalah :

  • Sih Pohaci, beliau menjaga awan dan langit.
  • Sih Parjampi, beliau selalu menjaga bumi dan bertempat pada lapisan bumi nomor dua.
  • Sang Sontong, menjaga semua gunung pulau Jawa.
  • Sang Waluhun, menjaga pantai utara dan selatan.
  • Sih Walakat, menjaga seluruh hutan dan pepohonan.
  • Sangkala Brahmana, menjaga Bumi Cirebon.
  • Sangkala Wisesa, menjaga bumi Mataram.
  • Janggala Putih, menjaga bumi Bogor.
  • Sang Lenggang Lumenggang Gajah, menjaga bumi Jakarta.
  • Sang Seda Hening, menjaga bumi Banten.

Dan pengguron atau perguruan para purwa, Wali Jawa, diantaranya :

Perguruan, penatas angin Pekalongan
Perguruan, Agung Waliyullah Ki Bagus Santo Pekalongan.
Perguruan, Pandarang Semarang.
Perguruan, Jambu Karang Purwokerto.

Perguruan, Daon Lumbung Cilacap, dan lain-lain

Lewat pemaparan yang diambil dari ilmu shahadat majmal dengan pendalaman arti yang terkandung di dalamnya, sesungguhnya asal usul manusia diciptakan dari sifat tanah yang dibentuk sangat sempurna oleh keagungan sifat AF’ALULLAH. Dari kesempurnaan ini manusia juga diberi kelebihan berbagai macam pengetahuan dan ilmu yang sangat luas jauh sebelum Allah SWT menciptakan wujud bumi yaitu, leawat nur Muhammad SAW, yang sudah diciptakan terlebih dahulu di alamul Jannah Majazi / Surga Majazi. Dengan ke Esaan dan ke agungan-Nya, Allah SWT menciptakan manusia dengan segudang kelebihan dan kesempurnaan bentuk yang memadai. Bahwa jutaan tahun sebelum perintah sholat diwajibkan untuk umat di dunia, lewat wasilah yang disampaikan oleh utusan terakhir Muhammad SAW, Allah SWT sudah menerapkan arti sholat tersebut ke tubuh manusia disaat bentuk manusia baru diciptakan. Seperti saat menciptakan bentuk daging, Allah SWT menciptakannya dengan asma takbiratul ikrom (Allahu Akbar) juga tatkala membuat bentuk napas, Allah SWT, menciptakannya dengan Asma ruku (Subhanarobbiyal adzimi wabihamdih) lalu disaat menciptkan bentuk tulang-belulang, Allah SWT, juga menciptakannya dengan asma, sujud (Subhanna robbiyal a’laa wabihamdih) dan disaat menciptakan bentuk “kulit” Allah SWT menciptakannya dengan asma “lungguh” (Robbigfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’ fu ani) Lewat sebuah kesempurnaan yang dimiliki oleh tubuh manusia, akhirnya Allah SWT, memberika tugas mulia kepada makhluk ciptaan-Nya yaitu, dengan bersaksi kalimah syahadat, berpedoman pada kewajiban sholat, mengikhlaskan harta bendanya untuk tujuan mulia, mengisi badan lewat jalan berpuasa dan mensucikan diri lewat kebersihan haji. Dari struktur yang diserap oleh tubuh manusia, Allah SWT, juga menciptakan bentuk kekuatan yang menjadi prioritas sifat manusia itu sendiri, yaitu dengan berbagai macam bentuk ilmu. Nah, dalam bentuk ilmu ini Allah SWT, memberikannya suatu sifat cahaya api dalam setiap tubuh manusia. Seperti halnya sifat cahaya Allah SWT menempatkan dalam bentuk keyakinan, kekuatan bathin, penghayatan ilmu bersifat Robbani dan Derajat menuju khusnul khotimah. Sedangkan api sendiri di tempatkan dalam sifat manusia sebagai semangat hidup yang bermanfaat. Seperti semangat dalam mencari duniawiyah, ilmu yang menjadi landasan hidup, keras dalam disiplin, tegas dalam menegakkan prinsip, luwes dalam menata ilmu bersifta supranatural dan lain sebagainya. Dalam pengasahan sifat cahaya dan api ini manusia pada akhirnya akan bisa bentuk wujud ilmu yang nyata, seperti, ilmu supranatural dan dhaukiyatul ma’arif. Tentunya dengan dibantu semangat yang tinggi, tekad membaja, keyakinan yang memadai dan menjauhkan dari kemalasan. Beda dengan pemaparan yang ada dalam kitab “Mizanul Qubro”. Kitab ini secara luas menerangkan, bahwa dalam kesempurnaan yang terdapat dalam tubuh manusia, Allah SWT, memberikan kapasitas lebih, yaitu dengan memberikan keluasan ilmu pada 6 tingkat yang diambil dari sifat alam. Diantara 6 tingkat sifat alam tersebut, diantaranya, Gunung, Besi, Api, Air, Angin dan Hawa / Ikhlas.

  1. Gunung. Mencerminkan bentuk yang kokoh dari tubuh manusia yang sangat kuat. Dari sifat gunung ini pula manusia dapat menampung segala ilmu dan bisa menahan segala badai, mara bahaya dan azab-azab kecil dari peringatan Allah SWT, serta bisa menjauhkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan lewat do’a-do’a tulus dari hati yang selalu dibawanya sejak lahir hingga tutup usia. Dari sifat ini juga manusia mulai ditugaskan oleh Allah SWT, untuk mengenal arti ilmu yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Terutama dalam keluasan akal dan penghayatan bathin menuju tahkikul ilmi / wujud dari semua bentuk ilmu, sehingga dengan adanya bentuk tubuh ini apapun bisa diraihnya sebagai suatu keberhasilan hidup yang diinginkan. Namun dalam kenyataannya, sifat gunung yang terdapat dalam diri manusia ini belumlah sempurna, sebab sifat gunung sendiri kalah sifat “Besi”.
  2. Besi. Mencerminkan bentuk yang keras dari sifat manusia di dalam segala hal, sebab dalam hal pemaparan ilmu pengetahuan alam sendiri jelas ditegaskan, bahwa sifat besi lebih keras dari sifat yang terdapat dari wujud perbatuan. Lewat sifat besi ini, manusia mulai dituntut untuk memegang peranan dalam kedisiplinan dan penataan hidup secara akurat, baik dalam memulai suatu karir atau pembelajaran masalah keilmuan. Namun dalam pandangan ahli sufi, sifat besi ini yang terdapat dalam diri manusia adalah perjalanan awal menuju apapun keinginan yang dimaksud untuk bisa tercapai, hanya saja dalam menginginkan sesuatu yang lebih, manusia tidak boleh berhenti hanya disifat ini, melainkan harus menapaki ilmu yang lebih tinggi. Sebab sifat besi masih kalah dengan sifat api.
  3. Api. Mencerminkan sifat berani yang terdapat dalam diri manusia. Maksud dari sifat api di sini, adalah pembentukan dari 4 sifat asal yang terdapat dalam struktur watak manusia (nafsu hak, nafsu hawa, nafsu syaithoniyah, dan nafsu muthmainnah). Dari keempat nafsu ini manusia dituntut untuk mengendalikan nafsu-nafsu tersebut menuju sifat yang positif. Seperti, membangun badan kita lewat semangat berdzikir, semangat dalam mencari ilmu, semangat dalam memohon dan semangat dalam menorehkan segala bidang, baik yang besifat ril maupun bersifat bathiniyah. Sebab asal usul sifat api yang diciptakan oleh, Allah SWT, sebagian besar diarahkan ke sifat semangat sebagai pembakaran diri menuju bentuk kesuksesan di kemudian hari. Hanya saja dalam merilis kehidupan yang lebih mapan, setiap manusia dituntut untuk terus mencari apa yang menjadi keinginan selanjutnya yang lebih tinggi. Sebab dalam pandangan ahli sufi sendiri menilai sifat ini sebagai tingkat pemula dalam pengenalan ilmu Allah SWT, menuju derajat yang lebih mulia. Sebab sifat api masih bisa dikalahkan dengan sifat air.
  4. Air. Mencerminkan sifat kelembutan yang terdapat dalam diri manusia. Sifat ini menurut ahli sufi disebut dengan istilah “Thoriqul Qolbi / penataan hati”. Sebab bila seorang telah mencapai sifat ini, niscaya apapun bentuk ilmu akan bisa diwujudkan secara nyata. Karena sifat air bisa menyatu dimanapun ditempatkan, baik ditanah, bebatuan, pohon, langit, dan lain-lainnya. Seperti halnya sifat ilmu yang terserap ditubuh manusia karena keluasan akal dan penghayatan bathin yang tinggi. Sifat air ini akan mudah menyerap di berbagai bentuk ilmu yang diinginkan, sehingga tanpa sadar, lambat laun diri kita akan menjadi hamba Allah SWT, yang mempunyai banyak kelebihan, terutama dalam hal ilmu bathiniyah. Hanya saja sifat air ini harus terus diasah hingga sampai menuju sifat ilmu yang lebih tinggi. Karena sifat air disini masih kalah dengan sifat yang terdapat dari wujud angin.
  5. Angin. Mencerminkan keluasan ilmu dalam diri manusia secara menyeluruh. Sebab angin disini disebut sebagai sifat raja dari semua sifat alam. Seperti halnya kekuasaan seorang raja diraja, sifat angin ini bisa mengontrol dan mengatur segala sifat alam. Seperti, mampu merobohkan kekuatan gunung, menerbangkan sifat bumi, membesarkan sifat sifat api dan menarik sifat air yang menjadikannya lautan air bah. Dalam sifat ilmu, angin ini disebut juga dengan sifat Ma’rifatillah, dimana sifat Ma’rifatollah ini adalah wujud kesempurnaan dari bentuk pemahaman manusia dalam mengolah segala hal bidang ilmu bersifat Robbani yaitu, lewat sebuah pemahaman, kesolehan, kezuhudan, menjauhkan sifat duniawiyah dan hanya difokuskan dalam satu tujuan, yaitu, hanya mengenal kebesaran Allah SWT. Namun dalam keluasan secara hakiki, sifat seperti ini belum dikatakan sempurna sekali sebab masih ada yang mengalahkannya, yaitu sifat ikhlas.
  6. Hawa / Ikhlas. Mencerminkan kebersihan hati yang terdapat dalam diri manusia sifat ikhlas sendiri menurut para sufi disebut sebagai “Kamil Baenassama, wal ard” / kesempurnaan ilmu yang mampu menguasai antara langit dan bumi. Dalam hal  kesempurnaan sifat ilmu, sifat ikhlas di sini adalah penggabungan seluruh sifat alam yang sudah dikuasai secara lahir dan bathin, sehingga baik dari ucapan, tingkah laku maupun keinginan kita akan terkabul dengan sendirinya seiring kedekatan hati dengan sifatullah, Afalullah, dzatullah kian menyatu.

Dengan segala pembedaran sifat alam tadi, pada intinya adalah untuk mengajak manusia hidup, bahwasanya, semua ini bisa tercapai , apabila manusia itu sendiri mau berkorban untuk semangat dalam menjalani hidup yang penuh dengan tingkatan demi tingkatan yang harus dilaluinya.

Nah, semoga dengan pemaparan yang Misteri berikan, kita semua menjadi paham dan mau menjalankan apa yang menjadi tuntutan hidup kita sendiri. Amiiin

Kisah bagian kedua ini menceritakan tentang perjalanan pembuatan minyak Semar Ireng, yang di dalamnya sarat makna dan manfaat kehidupan. Inilah kisah selengkapnya.

Bermula dari acara Milad ke 5, yang baru saja diselenggarakan kemarin tgl 18,19 dan 20 September 2010, yang mana sesudahnya acara ini selesai, saya dipanggil oleh guruku yang menyatakan bahwa kemarin malam, sejumlah bangsa abdul jumud (sebangsa jin) protes atas sikapku mengadakan Milad ke 5, yang tidak menghormatinya.

Disini saya pribadi merasa bingung atas ucapan guruku, namun setelah beliau menerangkan secara detail, saya baru paham duduk permasalahan sesungguhnya, ternyata bangsa abdul jumud, ingin di hormati sebagai layaknya manusia pada umumnya.

Mereka menuntut agar diriku menghormatinya dengan cara menyembelih kambing berbulu hitam legam dan guruku sendiri saat itu memberikan pandangannya secara luas, diantara tausiahnya guruku kala itu:

Tidak ada salahnya kita menghormati mahluk tak kasat mata, sebab Allah, telah menjadikan alam semesta ini dengan dua jalur yang berbeda. 1. Jalur ilmu, wasilah ini tidak akan pernah dimiliki oleh mahluk manapun kecuali bangsa Malaikatulloh, Nabi dan para Wali (manusia). 2. Jalur keamanan, dimana rusaknya alam, kehancuran bumi dan kerusakan lainnya, semua tak lain akibat kerjaan abdul jumud, yang merasa dirinya paling benar sebagai wasilah keamanan bumi dan alam lainnya. Jalur ini hanya dimiliki oleh mereka para Abdul Jumud, yang hanya tunduk kepada baginda Nabi Hidir AS, dan Allah telah menempatkan derajat keamanan ini hanya untuk mereka dan bukan dipegang bangsa Malaikatulloh, Nabi maupun waliyulloh. Jadi dengan menghormati mereka sama halnya kita menghormati keamanan daerah kita sendiri” terang guruku.

Dari ulasan guruku ini, saya beserta anak majlis jam’ul Ijazah, segera melaksanakan tugasnya mencari kambing hitam legam dan alhamdulillah hari itu juga Allah telah menemukan apa yang kami cari.

Pagi harinya kambing itu saya potong dan seluruh dagingnya kami berikan kepada orang yang membutuhkan dengan satu niat untuk menghormati seluruh wadyabala abdul jumud.

Tanpa dinyana,  proses ini dilihat oleh Kanjeng Sulthan Hasanuddin Banten, yang pada malam harinya beliau datang membawa hadiah buatku, yaitu berupa daun sirih hitam “Anakku…..atas khidmatmu terhadap perintah gurumu, dan atas keihlasanmu memberikan apa yang abdul jumud minta, ini terimalah hadiah dariku dan berikan kepada gurumu

Siang itu saya menjumpai guruku dan menceritakan semuanya, lalu guruku langsung mengamati daun sirih hitam setelah saya menyerahkan kepadanya.

Masya Allah, ini bukan daun sembarangan melainkan pusaka dari lambang Semar ” terangnya.

Entah apa maksud dan tujuan guruku, yang jelas saya tidak mempunyai bersitan apapun kala itu kecuali rasa puas karena sudah melaksanakan titahnya yaitu, menyembelih kambing hitam yang diminta oleh bangsa abdul jumud.

Besoknya saya datang lagi atas perintahnya, namun pertemuan kali ini membawa senyum simpul buatku, pasalnya tanpa terduga saya mendapatkan dua hadiah sekaligus  yaitu Pusaka Sereh lanang dan ajian Semar Ireng.

Dris….tadi malam saya mengusulkan kepada Allah, tentang daun sirih hitam yang melambangkan sifat semar, ternyata daun itu awalnya kepunyaan Mbah Kuwu cakra Buana, yang diberikan kepada Sulthan Paku bumi Banten Hasanuddin dan lewat sirih hitam itu pula, Mbah Kuwu, menghadiahkanmu ini (tombak bumi sereh lanang dan ilmu ajian semar ireng) ilmu ini hanya ada satu di dunia, sebab semar ireng cuma kamu seorang yang diberikan secara langsung oleh Abi Kuwu. Wasilah ini sangat cocok buatmu untuk suatu wasilah pengasihan dan derajat” Tambahnya.

 

Dari sinilah kami beserta anak Jam’ul Ijazah, langsung meraciknya dengan sekuat tenaga dan hasilnya sungguh diluar dugaan, minyak Semar Putih mengandung tuah dan kekuatan sampai 170% tingkat pengasihan diatas minyak Semar putih yang hanya mencapai 98%.

Dan bagi pembaca sekalian, sekedar kami beritahukan atas pelajaran sesudahnya memiliki pusaka Sereh Lanang, saya pribadi akhirnya sering bertemu secara yaqodho (lahir) dengan Mbah Kuwu Cakra Buana, yang kata beliau menjelaskan secara rinci, bahwa ilmu semar terbagi menjadi 5 tingkat.

1.  Semar Mesem, menurutnya ilmu ini bersifat umum dan dalam kategori terendah dari keseluruhan ilmu pengasihan bersifat Semar. Yaitu berkekuatan 67%.

2.  Semar Kuning, menurutnya ilmu ini lebih terfokus terhadap sifat dunyawiyyah atau kerejekian, yang diambil dari segi pembawaan yaitu pengasihan/ pengeretan, berkekuatan 77%.

3.  Semar Putih, menurutnya ilmu ini mempunyai spesifikasi kearah pencegahan atau kerusakan rumah tangga (tidak sampai cerai) berkekuatan 98%.

4.  Semar Ireng, menurutnya ilmu ini mempunyai dua jalan berbeda namun satu keinginan, Pengasihan dan Derajat. Berkekuatan 170%.

5.  Semar Lungguh, menurutnya ilmu ini mempunyai martabat paling luhur dari semua pengasihan bersifat Semar, bertujuan kearah raja atau ratu (menang dalam segalanya) berkekuatan 201%.

 

Dan diantara pembaca, bila anda kurang puas dengan pembedaranku, ada banyak persamaan ilmu namun beda jalur, namun pada intinya setiap ilmu harus ada pusaka kuncinya yang menjadi andalannya sebagai bukti wujudnya ilmu nyata.

Legenda yang sangat masyhur dikalangan masyarakat Jawa Barat, sebuah cerita tentang kedahsyatan ilmu “Semar Ireng” yang dimiliki pangeran Walang Sungsang atau yang disebuat dengan Mbah Kuwu Cakra Buana. Mengisahkan pertemuan dua sosok legendaris pangeran Walang Sungsang dan kyai Semar, di daerah Wanayasa  Sumber Jawa Barat.

Setelah bermimpi bertemu Rosululloh SAW, pangeran Walang Sungsang, yang kala itu masih beragama Hindu harus menerima pengusiran ayahandanya Prabu Siliwangi, atas kegigihannya demi mencari agama yang bernama Islam.

Dengan penuh keyakinan Walang Sungsang, terus bertanya terhadap siapapun yang dijumpainya “Wahai kisanak!! Tahukah anda dimana saya harus mencari yang namanya ajaran Islam?

Semua hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu apa itu ajaran Islam! Karena memang kala itu hampir keseluruhan masyarakat Jawa Barat, masih menganut ajaran Hindu.

Berhari-hari Walang Sungsang, terus mencari hingga tanpa beliau ketahui, seorang Resi bernama Poh Pohaci, mencegatnya:

Wahai putra Prabu Siliwangi, gerangan apa yang membuat mukamu bersedih hati, apa kau ingin ilmu kesaktian….atau tahta yang besar

Duh….ampun Resi,, aku bersedih karena belum menemukan yang aku cari selama ini yaitu, ajaran Islam

Mendengar ajaran yang barusan disebutkan, Resi Poh Pohaci, jadi terdiam sesaat:

Wahai putra Galuh….lewat hawatif yang kuterima, datanglah ke daerah Gunung Jati, temuilah pertapa sakti bernama Mahesa Kawa (sebutan para Resi, untuk Syeikh Dzatul Kahfi) dan terimalah pusaka rompi tambal sewu dariku yang bilamana dipakai akan ringan seperti angin

Setelah undur pamit, Walang Sungsang, langsung meneruskan perjalanannya dan sesampainya di kaki hutan gunung Ciremai, beliau dihadang oleh Nini Cerewet berhati baik. Nenek ini terkenal sangat sakti dikalangan para pertapa dan resi kala itu, beliau bernama Nini Rancang.

Eitt eittt eeeeittt…….wong bagus mau kemana berjalan sendiri  dengan muka penuh kesedihan

“Ampun Nini…..saya sedih karena belum menemukan yang selama ini aku cari yaitu, ajaran Islam

Waladalaaaa…wong bagus,,,,, agama itu belum ada, mungkin sebentar lagi akan tergenggam ditanganmu, sabar yo wong bagusssss….Terimalah pusaka Nini, berupa Konde Emas, manfaatnya tahan panas dari segala cuaca”.

Setelah diterima pusaka Nini Rancang, Walang Sungsang, langsung melanjutkan perjalananya menuju Gunung Jati, dan seiring pencariannya ini tak sedikit para resi dan pertapa sakti yang merasa kasihan atas kegigihannya, mereka membekalinya dengan pusaka kelas wahid, dianataranya, Resi Bangau, yang memberikan mustika Ampal (mustika yang bisa memuat seisi alam dunia) resi Jagat Nata, yang memberikan mustika Topong Slimpet (mustika menghilang) resi Badranaya, yang memberikan mustika Keris Brahma, luk 11 (pusaka yang mampu menghancurkan gunung) dan sebelum akhirnya bertemu dengan sosok Wali Kamal, Syeikh Dzatul Kahfi Gunung Jati, beliau lebih dahulu bertemu dengan dua tokoh sakti kyai Semar dan resi Danuwarsih. Inilah kisah selengkapnya………………

Disaat melewati daerah Wanayasa, pangeran Walang Sungsang, merasa tertarik untuk mampir disebuah gubuk terpencil yang cungkup atasnya memancarkan aura terang benderang.

Sampurasun…kisanak, apa ada orang di dalam

Lalu pintu-pun dibukannya, keluarlah seorang pemuda yang membuat Walang Sungsang, berdiam kaku.

Walang Sungsang, tercekat kaget karena pancaran wajah yang dimiliki oleh sang tuan rumah sangat bercahaya sehingga tiada bosan untuk selalu dilihat mata.

Wahai putra Galuh,,,jangan kau tercengang atas apa yang kau lihat, semuanya adalah fana’ dan hanya Allah, yang wajib kau sembah

Mendengar nama Allah, disebut, Walang Sungsang, langsung bersujud simpuh dihadapan orang tadi “Ya Kanjeng Dzatul Kahfi, ajarkanlah Islam kepadaku dan terimalah aku menjadi bagian dari hidupmu (murid)

Hahahaha…..putra Galuh, aku bukan orang yang kau cari, aku masih satu keturunan dengan ayahandamu, namaku Nur cahya bin Samud bin Aad bin Aosh, (nama Semar aslinya) Bila kau ingin mencari Islam, pergunakan sifat lembutmu dan jadikan dirimu manusia yang penuh akan cinta. Sesungguhnya para Auliya, sangat menyukai orang yang penuh akan ilmu ketulusan

Sebelum kau menemukan Islam yang menjadi sejatinya akidah, ikutlah terlebih dahulu bersamaku dalam mengenal penataan dan kecintaan sehingga gurumu kelak akan selalu menghargaimu sebagai muridnya

 

Dari kisah inilah walang Sungsang, mulai diajari beberapa ilmu rasa yang mengedepankan sifat kelembutan lewat aji Semar Ireng, yang artinya, “Ilmu tua yang matang” .

Pelajaran awal yang diterima Walang Sungsang, adalah memahami Hakekot Kembang Sereh, inti dari pelajaran ini semata untuk menjadikan walang Sungsang, orang yang di segani, dihormati, dan dipanuti kalayak luas.

Karena Nur Cahya yang tak lain adalah Semar, yang kini menjadi gurunya, tahu betul masa depan yang bakal dihadapinya kelak, apabila seorang juru selamat tanpa mempunyai pengasihan dan kewibawaan tinggi, niscaya sekuat apapun ilmu yang dimilikinya tidak akan menjadikan orang lain tertarik untuk mengikuti segala ucapannya.

Hal semacam ini bagian dari kamalatul ilmi/ sempurnanya ilmu, sebagai pelengkap kehidupan manusia disaat sedang membutuhkannya, sebab apapun Hakekat ilmu akan berujung pangkal atas kebesaran Allah SWT.

Kisah perjalanan Walang Sungsang, menjadi murid kyai semar, memakan waktu kurang lebih empat tahun lamanya dan terakhir kalinya ilmu yang bedarkan oleh kyai Semar, adalah mewujudkan Hakekot kembang sereh menjadi sebuah pusaka mata tombak berurat bumi.

Semua ini mencerminkan bahwa siapapun orangnya yang mampu mewujudkan suatu sifat menjadi nyata adalah bagian dari tingkat kesempurnaan manusia menuju kesabaran yang tiada tara.

Untuk lebih detailnya, kami akan tuliskan keistimewaan ilmu Semar Putih, yang berasal dari mustika bumi Sereh lanang, salah satunya:

- Dimana setiap malam rembulan (15 kalender Jawa) bila anda ingin mencari batu mulia atau batu magnet, maka galilah pohon sereh yang sedang berkembang, tepatnya pukul 24.00 sampai 01 dini hari, maka buktikan secara nyata, anda akan menemukan beberapa atau puluhan batu permata siap pakai.

- Petiklah kembang sereh ditengah malam jum’at, dan jadikanlah kembang tadi sebagai azimat yang ditaruh diatas pintu depan, maka segala bentuk ilmu santet akan musnah dan bisa anda lihat bentuknya, yaitu tepat dibawah kembang sereh yang anda taruh tadi.

- Petik kembang sereh di tengah malam selasa legi, gunakan kembang ini setiap saat dengan cara dicelupkan pada segelas air putih, lalu minumkan pada siapapun  yang terkena penyakit HIV, niscaya lambat laun akan pulih seperti sedia kala.

- Bagi anda yang gemar ritual tapi berjiwa penakut, ambil 5 helai kembang sereh, dan letakkan dihadapan kita sewaktu berdzikir atau ritual lainnya, niscaya kita tidak akan pernah diganggu oleh suara atau penampakkan dan sejenisnya.

- Untuk kalangan kaula muda yang senang sanjungan atau ingin mempermudah dalam asmara, seringlah mandi air kembang sereh yang dicampur dengan kembang melati secukupnya, niscaya siapapun lawan jenis yang anda dekati akan mudah luluh hatinya.

- Dalam suatu pengobatan yang diluar nalar kita, seperti kesurupan mendadak, ayan, kejang, panas tinggi dan suka melamun, petiklah 7 helai kembang sereh di tengah malam jum’at kliwon, dan rendam dengan air kelapa hijau yang saat memetiknya tidak  boleh dijatuhkan ke tanah, biarkan selama 10 menit, lalu minumkan, niscaya dengan keagungan do’a Waliyulloh, orang tersebut akan langsung sembuh.

- Sangat beruntung sekali bagi anda yang memiliki mata tombak dari kembang sereh, karena siapapun yang memilikinya bisa dijadikan 1000 wasilah pengasihan spektakuler.

- Juga bagi anda yang memiliki mata tombak yang didapat dalam serabut kembang sereh, anda akan langsung mempunyai kekuatan pancra indra dan kelebihan lainnya diatas rata-rata orang umum, atau setingkat dengan 333 kekeuatan menurut pandangan ahli hikmah. Dan kekuatan yang didapat dari mata tombak kembang sereh akan selalu aktif sampai pada keturunan kita yang ke empat atau setara dengan 200 tahun lamanya.

Sebuah sarana yang pernah dibuat dan menjadi pegangan Bung Karno semasa beliau hidup. Konon, tuahnya meredam segala fitnah. Kharismanya bisa menyatukan masyarakat luas kekeramatannya, akan menuntun kita ke suatu jalan derajat mulia dalam pemerintahan. Piranti ini disebut dengan nama Minyak Pemimpin.

Kekeramatan dari sebuah olah bathin manusia, piranti ini banyak diburu oleh para pejabat kerajaan di zaman kejayaan Prabu Siliwangi.

Pada masa itu para resi, empu dan ahli bathin lainnya, mereka banyak di rekrut / dibayar oleh para penguasa istana untuk membuat piranti ini. Begitu keramatkah sehingga para pembesar istana menginginkannya?

Kisah piranti yang satu ini tergolong piranti yang disakralkan dan tentunya sulit ditemui. Yang pasti piranti ini bukan sembarang piranti yang mudah dibuat, bahkan seiring zaman berganti piranti ini sudah tidak terdengar lagi akan kabar beritanya. Nah, bagaimanakah piranti ini sampai jatuh ke tangan Misteri? Inilah kisahnya.

Pada tahun 1995 yang lalu, Misteri mulai aktif belajar ilmu pada seorang ulama khos di daerah Magelang Jawa Tengah. Di sana Misteri belajar selama 3 tahun lebih, dan selama masa itu pula Misteri dilarang makan nasi atau ketan oleh Sang Guru.

Baru setelah lulus dari sana dilanjutkan ke salah satu guru dari Rijalulloh Bumi yang bermukim di pesarean Ki Umar Guna setahun lamanya. Dan yang terakhir, ke mursyid Ma’rifatbillah yang mengarang beberapa kitab, di antaranya, IQODZUL HIMAM FI TARJAMATUL AQIDATUL AWAM, KHOMSINA AQOID, dan lain-lain.

Tentunya, dalam penggodokan ilmu / pemahaman seputar dunia supranatural lewat bimbingan mereka membuat kepekaan dalam menyelami dunia goib kian bertambah.

Hingga pada suatu malam di bulan maulud, tepatnya tahun 2000 lalu, di saat Misteri sedang tirakat meritualkan surat Al-Ikhlas, tepatnya di malam terakhir, Misteri merasakan ketidakkuatannya dalam menahan rasa kantuk dan lapar. Mungkin semua faktor akibat satu minggu lebih perut Misteri tak pernah di isi secuil pun makanan, hingga malam itu, mungkin karena lelahnya Misteri akhirnya tertidur.

Entah sudah berapa lama Misteri terlelap dalam hangatnya kasur butut, tiba-tiba Misteri terbangun karena seolah dilempar benda keras yang mengenai perutnya. Masih dalam keadaan setengah sadar, sebuah cahaya besar dari sosok wujud manusia terpancar terang di sudut kanan kamar. Benar sosok manusia yang tak asing dan tak bukan lagi beliau adalah Bung Karno sang legendaris.

Sambil memegang tongkat berkepala burung garuda dan sebuah bendera merah putih di pundaknya serta memakai baju dan celana berwarna putih beliau menatapku tajam dengan kewibawaan dan kharismanya yang luar biasa.

Aku benar-benar dibuat tertegun dan seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku. Ya, memang Bung Karno adanya, lalu beliau pun menghampiriku. Nak, katanya ”bawalah benda yang tadi jatuh ke asalnya, Pajajar Galuh”. kemudian beliau pun menghilang

Dengan perasaan tergesa, Misteri buru-buru menyalakan lampu kamar dan mencari benda yang dimaksud Bung Karno, atau benda yang tadi menimpa perut Misteri.

Alhamdulillah, ternyata benda itu benar-benar ada tak jauh dari tempat tidur. Oh, benda yang sangat indah, berupa batu cincin sebesar ibu jari kaki dengan urat batu berbentuk macan loreng.Subhanalloh.

Keesokan harinya setelah tanya sana tanya sini tentang tempat yang dimaksud Bung Karno semalam, akhirnya tempat itu ditemukan juga. Empat malam Misteri ritual di sana dan pada malam ke empat / terakhir, batu macan tiba-tiba meloncat dari saku baju Misteri dan akhirnya melesat ke atas sehingga raib.

Pada saat raibnya batu macan tersebut, dari atas genteng terdengar suara letusan sangat keras. Bersamaan dengan letusan tadi seberkas cahaya melesat masuk dan jatuh tepat di hadapanku. Ternyata cahaya tadi berasal dari sebuah batu / beling yang di dalam nya terdapat cairan minyak berwarna kuning muda bercampur dengan butiran padat berwarna hitam.

Dari kisah minyak itu satu bulan kemudian seorang tamu datang mencariku. Beliau mengaku sebagai salah satu pejabat negara yang sedang dilanda kasus akibat suatu masalah………. Konon menurut pengakuan si tamu dalam mimpinya, “carilah minyak pemimpin / penolong, karena hanya sarana itulah yang mampu menyelamatkan permasalahanmu”. bahkan yang menjadi rasa percaya, Syeikh Bayan juga memberikan nama pemilik dari Minyak Pemimpin berikut alamat lengkapnya, tambah si tamu sambil menunjuk padaku

Singkat cerita pada akhirnya Minyak Pemimpin berpindah tangan, mungkin sudah takdirnya, pikirku. Namun, di malam harinya saat tertidur pulas, Bung Karno hadir dalam mimpi yang menakutkan. Beliau langsung memarahi Misteri dengan luapan emosi yang tiada terbendung. Misteri didamprat habis-habisan, “koe ora ngerti di untung yen koe nek ngei ning liyone koe kudu melokno adate goib” yang kurang lebih artinya “kamu tidak tahu diuntung, kalau minyak itu mau dipasrahkan ke orang lain, kamu harus ikuti peraturan yang sudah ditetapkan di alam goib sana”.

Bung Karno juga menambahkan “dasar koe ora ngerasa no penggawean obat tinuku, inget! Serono iku ora gampang dig awe, kudu iso lepas lan butuh bala bantuan para sulthon jin. Inget! Sarana tuwo kudu dipelokno, soko ati bebek rojo, kembang agung Wijaya Kusuma, ayam cilik ing keramat, kelopo Nunggal lan batu Mulyo ing jagat raya”.

Kurang lebih artinya sebagai berikut, “dasar kamu tidak pernah merasakan berat beban dalam tirakatnya, Ingat! Sarana ini tidak mudah diperoleh, kecuali ditebus dengan puasa lepas dan butuh bantuan para raja jin, ingat! Sarana dari minyak ini sulit didapatkan, semua itu karena diambil dari yang bertuah. Yaitu hati dari seekor bebek pemimpin, kembang mulia Wijaya Kusuma, hati seekor ayam keramat, buah Kelapa Nunggal dan batu Merah Delima.

Dari pengalaman mimpi itu membuat Misteri terketuk hati. Untuk terus belajar dan mencari, semoga di suatu hari nanti Minyak Pemimpin bisa dibuat sendiri, tekad bathin Misteri yang sangat dalam.

Lambat laun seiring waktu berjalan suatu pemahaman dan kepekaan dalam mengolah kebatinan kian bertambah, pengalaman masa lalu, pada akhirnya membauahkan hasil yang gemilang semua ini dibuktikannya dengan beberapa penemuan / pembuatan piranti pengasihan. Di antaranya Getah Katilayu, Kelapa Nunggal, Ari-ari Kidang, dan yang terakhir Tirta Kecubung.

Dengan adanya penemuan beberapa minyak tersebut, akhirnya di pertengahan tahun 2006 kemarin, satu persatu seluruh sarana pembuatan piranti Minyak Pemimpin terkumpul sudah. Yaitu, Kelapa Nunggal, seekor bebek pemimpin, ayam keramat, bunga Wijaya Kusuma dan batu Merah Delima.

Lewat suatu kontemplasi yang Misteri lakukan, akhirnya Bung Karno sendiri yang memberikan pemahaman dan keistimewaan dari seluruh sarana pembuatan Minyak Pemimpin sampai ke suatu tirakat dan keistimewaannya. Inilah pemahaman mistik dari ajaran Bung Karno.

Kelapa Nunggal

Buah kelapa ini gampang-gampang susah dicari, sebab dalam satu pohon hanya ada satu-satunya buah (nunggal) yang tumbuh dan itu pun buah Kelapa Nunggal harus yang harus menghadap ke timur. Keistimewaannya sebagai pembuka pamor wajah yang sangat kuat yang di dalamnya sudah terdapat 7 penunggu gaib dari ahli syimar.

Hati seekor bebek pemimpin

Bebek ini punya ciri khas tersendiri, warna bulu putih mulus, paruh dan kaki berwarna kuning tajam. Di atas kepala dan ekornya mempunyai jambul / bulu tambahan yang tak dimiliki oleh bebek lainnya. Bebek ini disebut Raja Pemimpin, karena di manapun bebek ini berada seluruh bebek yang lain pasti akan mengikuti kemanapun bebek pemimpin ini pergi.

Keistimewaannya menarik sukma bagi yang melihat. Perisai diri dari segala gangguan yang bersifat hitam. Mendongkrak karir dalam suatu kharisma tinggi, mudah dalam urusan duniawi dan selalu menjadi pujian banyak orang. Bebek ini mempunyai / dijaga oleh 17 gaib dari bangsa jin Malikul Ardhi.

Ayam Keramat

Ayam ini dahulunya diternak dan menjadi kebanggaan seorang waliyulloh Kamil pada zaman wali songo. Beliau adalah Syeikh Muhyi asal dari Pamijahan asal dari Tasik Jawa Barat. Sepintas ayam ini biasa saja dalam kata lain seperti ayam pada umumnya. Tapi bila kita melihat secara seksama ayam ini mempunyai 2 sifat yang berlawanan. Yaitu;

-          Bulunya berwarna putih mulus

-          Seluruh badannya hitam legam (Cemani) bahkan darahnya pun berwarna hitam kecoklatan.

Dalam pemahaman ilmu gaib ayam ini selalu dijaga oleh 12 khodam dari bangsa birhatihin.

Bunga Wijaya Kusuma

Bunga ini menjadi kebanggaan para lelembut dari dasar laut, keindahan dan keunikan dari bunga ini bisa dilihat setiap bulan purnama telah tiba. Sebab dari daunnya yang mirip dengan tanaman cocor bebek ini akan mengeluarkan putik bunga yang setiap detik akan memanjang dan akhirnya berbentuk bunga besar yang elok dan indah.

Namun sekian banyaknya bunga itu mekar sulit bagi kita untuk mengetahui kapan bunga itu mekar? Sebab bunga Wijaya Kusuma akan mekar dengan sendirinya seiring orang-orang sudah terlelap tidur. Nah, dalam pengkajian ilmu Al-Hikmah, bunga ini mempunyai keistimewaan sebagai pengurip / menghidupkan segala sel hitam di tubuh manusia. menjadikan suatu kharisma yang sungguh sangat luar biasa. Keistimewaan lainnya bunga ini selalu dijaga 177 bangsa lelembut dari Alamul Bahri.

Batu Merah Delima

Tentu benda yang satu ini tak asing lagi bagi para pencari mistik. Keistimewaannya mampu meredam segala benda tajam dan menjadikan kita ke suatu derajat mulia.

Dalam dunia supranatural, batu ini selalu diburu seiring manfaat / khasiat / tuahnya yang begitu spektakuler. Pada intinya, nanti batu ini sebagai pengunci dari pembuatan piranti Minyak Pemimpin.

Dalam menyibak ritual minyak pemimpin, bung Karno mengajarkan beberapa pengertian dan syarat yang harus dilaksanakan. Diantaranya, ritual ini terbagi menjadi dua tingkat.

1.                           Dimulai pada tanggal 29 Djulhizah sampai dengan tanggal 10 Muharom (11 hari puasa lepas / tidak makan dan minum).

2.                           Dimulai pada tanggal 19 Djulhizah sampai dengan tanggal 10 Muharom (21 hari puasa lepas / tidak makan dan minum).

Selain tanggal yang sudah di tentukan ini, Minyak Pemimpin tidak bisa dibikin. Intinya dalam satu tahun hanya boleh melaksanakan ritual 1x (satu kali). Silakan mana yang akan anda pilih, mau yang 11 hari / 21 hari puasa lepas.

TATA CARA RITUAL

-          Potonglah bebek pemimpin dan ayam keramat untuk di ambil hatinya.

-          Bikinlah minyak dari perasan air santan Kelapa Nunggal yang dipanaskan sampai jadi suatu minyak / berubah warna sampai berwarna kuning muda (bening).

-          Apabila minyak Kelapa Nunggal sudah jadi, masukan hati bebek pemimpin, bunga Wijaya Kusuma dan hati ayam keramat jadi satu.

-          Panaskan kembali semua racikan sehingga seluruh bahan menjadi keras. Dengan kata lain, agar racikan tersebut bisa bertahan lama dan tidak bau.

-          Untuk amalan yang dibaca setiap malam / masa ritual, baca hizib magribi 121x, surat ayatul Kursy 333x, doa Nurbuat 77x, tidak lupa sebelum ritual, tawassullah kesemua Wali Songo, Syeikh Siti Jenar, Mbah Jangkung dan ke semua yang megang / bertanggungjawab semasa mereka hidup. Di antara turun temurun, silsilah dari yang punya ilmu ini: Prabu Siliwangi, ibu agung Ratu Laut Kidul, Ki Buyut Macan Putih Gunung Ciremai, Ki Boga Darma Gunung Tidar, Ki Pasopati Gunung Tugel, Ki Ender Amoi Sungai Cipuwai, Ki Bagawan Sakti Tubagus Banten, Ki Bagus Panuntun Hutan Jati, Ki Tolha Kalisapu, Ir. Soekarno bin Sukaini Blitar (mantan Presiden RI-1).

-          Empat hari sebelum ritual selesai, siapkan 4 buah kelapa Hijau obat (apabila ditepas, serabutnya berwarna merah).

-          Dari empat malam terakhir, tepaslah satu buah kelapa Hijau obat tadi, dan saat menjelang membaca amalan Minyak Pemimpin, masukkan batu Merah Delima ke dalam kelapa tersebut. Lakukan cara seperti ini hingga malam terakhir (4-malam berturut-turut).

-          Ingat! Di saat menjelang 4 malam terakhir, kita tidak boleh berada di tempat yang atasnya tertutup (harus di alam terbuka).

Itulah keakuratan proses dari ritual Minyak Pemimpin. Namun, mampukah orang biasa melakukannya? Karena tubuh manusia secara umum, hanya kuat dalam batas tujuh hari saja. Untuk menjadi kuat apa rahasia dibalik semua itu? Inilah kuncinya.

Dalam pemahaman ilmu kejawen lewat Mnah Kuwu Cakra Buana, di terangkan, bahwa penguat rasa dari suatu amalan itu ada, sehingga orang yang tidak mampu puasa lepas, akan kuat dengan sendirinya sampai 11 hari lamanya. Inilah amalan tersebut:

“Sup sinurup Manjing Waruga Waruga Jati, Jati Sampurna, penguat badan kersaning Alloh, penguat lahir Rohman ing Kuoso. Lailaha ilalloh muhammadar rosululloh” 333x

Amalan ini harus dibaca setiap jam 23.00 saat menjalani puasa lepas, dan untuk amalan penguat hingga sampai mampu bertahan selama 21 hari lamanya. Kanjeng Sunan Kali Jaga menjawabnya:

“tumeko subuh sampe petenge jagat, bayi orok panglebur dosa. Sinuhun sakti kang dueni, kuat awak dadi pasti (Allohu Akbar 3x)” 197x.

Amalan ini harus dibaca setelah kita melampaui 11 hari puasa lepas.

Demikianlah sepenggal kisah, dari olah bathin manusia yang akhirnya membawa suatu peruntungan hidup lewat sarana Minyak Pemimpin. Tentu, siapapun akan mampu meritualkan seperti ini, kuncinya, kita mau berusaha dengan segenap tekad dan kebesaran hati.

Lantas, bisakah Minyak Pemimpin di jual belikan secara umum? Mungkin itulah beberapa pertanyaan dari beberapa ritualis yang sudah mampu meritualkannya.

Dalam pengajaran Bung Karno kepada Misteri, minyak ini tidak boleh di perjual belikan dengan bentuk uang, tapi harus ditukar dengan sebuah emas. Bagaimanakah caranya?

Untuk yang berdaya 11 hari puasa lepas, syah serimanya dengan 77gr emas murni. Sedangkan untuk yang berdaya 21 hari puasa, syah terimanya dengan 139gr emas murni.

Semoga dengan rahasia yang terkandung di dalamnya. Semua akan merasakan kekeramatan dari Minyak Pemimpin tersebut.

Abdul Kadir Addus Turkey

Posted: Agustus 24, 2011 in SEJARAH

Salah satu kisah dizaman pertengahan, dimana agama islam telah menjadi panutan hampir seluruh umat didunia, disalah satu daerah, Andulussi bagian dari Negara Turkey, ada salah satu ulama terkenal bernama, Abdul Qodir Addus Turkey atau terkenal dengan sebutan Syeikh Abdul Qodir Al Idrus.
Dalam sejarah kewalian, beliau salah satu wali yang semasa hidupnya telah mendapat rohmat jaminan surga dari Allah SWT, sehingga para malaikat banyak yang meniru akan tingkah laku serta gayanya. bagaimanakah semua ini bisa terjadi padanya?
Sejak usia lima tahun Abdul Qodir kecil ini telah ditinggal oleh kedua orang tuanya pulang ke rahmatulloh, beliau diasuh dari satu keluarga tetangga ketetangga lainnya, maklum zaman tersebut perekonomian masyarakat Andulussi terbilang cukup memprihatinkan, mereka hanya merasa iba dengan, Abdul Qodir kecil yang sudah tidak punya keluarga sama sekali.
Riwayat hidup beliau ini sungguh sangan memprihatinkan untuk anak-anak seusianya, beliau jarang dikasih makan hingga satu minggu atau sampai berbulan lamanya, konon keterbatasan ekonomi itulah hingga membuat si pengasuh Abdul Qodir kecil, lebih condong pada anaknya sendiri dan Abdul Qodir kecil dibiarkan terlantar.
Suatu hari disaat Abdul Qodir kecil terserang sakit panas, beliau acapkali mengigau dan menjerit-jerit dengan kerasnya dan pada waktu itu sang tuan rumah sedang tidak ada di tempat, banyak diantara masyarakat yang berlalu lalang mendengar jeritan Abdul Qodir kecil, namun mereka seolah tidak mengindahkannya.
Hingga waktu yang bersamaan, seorang ulama terkemuka, Syeikh Zakariya bin Zubair yang sedang melintas tempat tersebut mendengar jeritan Abdul Qodir kecil dan beliau langsung mendatanginya. “Celakalah wahai kalian semua yang tidak pernah manyayangi anak ini, sesungguhnya anak ini bagian dari surga Allah, yang sudah dinantikannya” suara ulama tadi begitu kerasnya hingga membuat orang yang berlalu lalang datang berkerumun dimana, Abdul Qodir kecil ditempatkan. setelah masyarkat sekitar mengetahui siapa yang barusan bicara tadi, semuanya langsung memberi hormat dan tidak ada satupun dari mereka yang berani bicara.
Lalu dengan nada lantang, Syeikh Zakariya bin Zubair berkata kembali dihadapan semua orang yang hadir ” Sesungguhnya Allah SWT masih menyelamatkan nyawa anak kecil ini dari kedzoliman orang-orang berhati (bahil / pelit) dan dengan kedatanganku kemari, Allah telah memberi waktu pada kalian semua untuk bertaubat, karena sesungguhnya dengan menelantarkannya, azab akan segera datang menenggelamkan kalian semua”
Kemudian dengan hati-hati, Syeikh Zakariya bin Zubair mengangkat Abdul Qodir Addus Turkey lalu sang anak yang sedang sakit panas ini dibawanya kerumah untuk dirawat. sepeninggal Abdul QODIR dari daerahnya Andulussi hampir semua masyarakat disitu merasa terbebas dari beban tanggungjawab, mereka tidak lagi menggubros ucapan dari Syeikh Zakariya bin Zubair.
Hingga pada bulan yang sama dari kepergian, Abdul Qodir kecil , Allah SWT mengazab daerah tersebut lewat jalan penyakit kulit (kusta) selama tujuh tahun lamanya sehingga lebih dari 70% masyarakat disitu meninggal secara mengenaskan. dari perjalanan penyakit yang banyak merenggut nyawa manusia, hampir semua masyarkat Andulussi mulai menapaki lembaran taubat, mereka selalu melantunkan pujian, do’a dan membaca Al-Qur’an serta beribdah sing dan malam, hati mereka kian pasrah dengan kondisi tubuh yang mulai hilang satu persatu karena terjangkit penyakit kusta yang sangat mematikan.
Pada suatu hari, Qodi Al Khurj, orang yang sangat dipercaya oleh masyarakat setempat, bermimpi bertemu dengan bekas gurunya Syeikh Zakariya bin Zubair… ” Tiada yang bisa meredam oenyakit yang datangnya dari azab Allah SWT. ingatkah tujuh tahun yang lalu seorang bocah yang telah tercipta sebagai yatim piatu yang ditelantarkan tanpa  diberi makan dan minum? sesungguhnya bermula dari itulah azab ini mulai tercipta, mintalah izin padanya, karena hanya dialah, Allah SWT akan menuruti”
Dengan keringat bercucuran, Qodi Al Khurj tersentak angun dan langsung berlari dari satu rumah kerumah yang lain mengumpulkan seluruh masyarakat yang masih tersisa. setelah semua berkumpul, beliau langsung menceritakan mimpi yang barusan dialaminya. dari situlah semua masyarakat ,ulai sadar diri dan semuanya mulai mengingat akan kesalahannya pada tujuh tahun yang lampau.
Lewat kesepakatan bersama, seluruh masyarkat Andulussi akhirnya mendatangi rumah, Syeikh Zakariya bin Zubair untuk meminta maaf kepada Abdul Qodir, sekaligus meminta do’anya untuk meredakan penyakit mematikan yang kini sedang mewabah.
Abdul Qodir, yang kini telah berusia dua belas tahun dan sudak terdidik akan akhlak dan budi pekerti yang baik, beliau dengan rasa khusu’ berdo’a dihadapan semua masyarakat Anduluddi, diantara do’a yang beliau lantunkan antara lain.. ” Wahai sang pencipta alam, Anduluddi adalah derah ku, dimana aku terlahir dan tercipta dari sana, demi ayahanda dan ibuku yang telah bersusah payah melahirkanku, demi masyarakat yang pernah memberiku kehidupan dan demi guruku yang telah mengajariku berbagai ilmu tauhid, kini ikhlasku bebaskan semua masyarakat Andulussi dari penyakit yang engkau ciptakan”
Tiba-tiba seberkas kilat saling bersahutan dilangit sana kemudian disusul dengan hujan yang sangat lebat, ” wahai masyarakatku, basahilah seluruh tubuhmu dengan air hujan penuh  rohmat ini karena sesungguhnya hujan ini tak lain adalah obat yang kau butuhkan ” terang Abdul Qodir.
Benar saja setelah masyarakat mengguyur tubuhnya dengan air hujan, semua penyakit yang mereka derita hilang sudah, bahkan organ tubuh yang sudah cacat akibat penyakit kusta, dengan sareat air hujan tadi, semua organ tubuhnya kembali utuh. sejak kejadian itu, masyarakat meminta agar Abdul Qodir kembali lagi kedaerahnya yaitu Andulussi dan dengan restu sang guru akhirnya Abdul Qodir diperbolehkan menetap sampai akhir hayatnya disana.
Kini, Abdul Qodir telah menjadi orang yang sangat dihormati sekaligus seorang guru spiritual bagi masyarakat Andulussi, mereka sangat menghormati akan kearifan serta kebijakan sifatnya dan diantara sifat beliau yang sangat menonjol, beliau adalah seorang penyayang binatang.
Tahun berganti tahun, nama Abdul Qodir Al Idrus mulai jadi perbincangan bibir lewat kearifannya, hari demi hari orang-orang dari berbagai penjuru daerah mulai berdatangan menjadi muridnya bahkan seiring keharuman namanya, daerah Andulussi akhirnya menjadi kota yang subur dan sebagai basis perdagangan terbesar diseluruh kota turkey pada saat itu.
Dengan maraknya manusia yang bermukim didaerah tersebut, sifat-sifat manusia mulai tidak bisa terkontrol, mereka sebagian ada yang taat dan sebaliknya banyak pula yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk dijadikan obyek kemaksiatan, seperti dibangunnya sebuah tempat perjudian dan tempat yang menjual segala minuman yang diharamkan oleh agama.
Seiring hati dan pikiran manusia yang mulai dirasuki akan segala aktifitas kemaksiatan, kini sesama teman mulai salaing membunuh, pemerkosaan mulai marak tejadi dan ujung-ujungnnya siapa yang terkut, itulah yang akan manning.
Melihat keadaan yang sungguh sangat mempti=rihatinkan ini, Abdul Qodir Al Idrus akhirnya pindah kesalah satu tempat yang dianggapnya sepi dan jauh dari kerumunan masyarakat luas, beliau kini hidup bersama dengan para binatang yang menjaganya setiap waktu.
Dari kisah hidupnya, Abdul Qodir Al Idrus akhirnya menjadi seorang waliyulloh kamil yang menjabat sebagai seorang Quthbul Muthlak (Raja Wali Sedunia) karena bermula dari seekor anjing yang dirawatnya. konon suatu hari beliau menjumpai seekor anjing yang sedang luka parah. Anjing ini mengidap suatu penyakit koreng yang rupanya sudah lama bertengger di tubuhya.
Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, Abdul Qodir Al Idrus langsung membawa anjing tersebut untuk diobati. mungkin karena sudah begitu lama anjing tadi punyakit hingga sudah satu bulan lebih penyakit yang diderita si anjing tak juga kunjung sembuh. Baru di bulan kelima dari pengobatan yang diberikan oleh Abdul Qodir Al Idrus, anjing tadi mulai menampakkan kesembuhannya.
Dari kesabarannya dan kasih sayang inilah, Allah SWT akhirnya memberikan suatu derajat luhur padanya yaitu derajat seirang Waliyulloh. Disamping ini beliau juga seorang ahli takwa yang setiap harinya tidak lepas dari 40 hataman Al-Qur’an yang selalu di bacanya secara Istiqomah.
Dengan segala kelebihan dan derajat yang dimilikinya, Abdul Qodir Al Idrus akhirnya menjadi pusat perhatian bangsa malaikat yang berada dialamul malakut. segala aktifitas dan peranannya selalu diikuti oleh semua malaikat, bahkan dalam pemakaian baju maupun celana, bangsa malaikat pernah ditegur oleh Allah SWT.
Konon pada suatu waktu disaat Abdul Qodir Al Idrus habis bekerja menggarap sawahnya yang sebentar lagi akan memasuki masa panen, beliau lupa bahwa baju dan celana yang dipakainya adalah baju yang biasa digunakan untuk sholat. karena beliau tidak punya baju lagi terpaksa beliau ini memakai baju yang biasa untuk bekerja yaitu kaos butut dan celana tambalan yang sangat lapuk.
dari perbuatannya ini, angsa malaikat akhirnya meniru dengan mengikuti apa yang sedang dipakai oleh Abdul Qodir Al Idrus, yaitu semua malaikat pada hari itu semuanya memakai kaos dan celana tambalan persis seperti apa yang dipakai oleh Abdul Qodir Al Idrus. Sehingga Allah SWT menegurnya.
Kembali ke anjing tadi, sejak sembuhnya dari penyakit yang dideritanya, anjing tadi akhirnya ikut serta menumpang hidup dirumah Abdul Qodir Al Idrus, mungkin karena sudah ditolong nyawanya, anjing ini menjadi sangat baik dan selalu menjaga tuannya dengan setia. Namun disuatu hari, Abdul Qodir Al Idrus yang usianya sudah mulai tua, beliau jadi sering sakit-sakitan dan karena kondisi yang kurang memungkinkan, beliau akhirnya tidak bisa mengurus anjingnya dengan baik. mungkin karena kurang terawat, anjing ini lambat laun kondisinya mulai memburuk dan akhirnya terjangkit kembali penyakit lamanya yaitu tubuhnya penuh akan koreng. dari sini anjing mulai menyendiri dengan meninggalkan tuannya yang sama-sama sedang sakit. Diwaktu yang bersamaan dimana orang-orang Andulussi sudah melenceng jauh dari akidah dan agama, pada waktu itu seorang pembunuh sedang dikejar-kejar massa karena barusan membunuh temannya sendiri, beliau ini tercatat sebagai orang yang meresahkan masyarakat karena sudah membunuh lebih dari lima puluh orang banyaknya.
Sambil terus berlari sang pembunuh ini mulai mencari tempat persembunyian agar dirinya selamat dari amukan massa yang sedang mengejarnya. dengan menyelinap diantara pepohonan yang cukup lebat, sang pembunuh akhirnya selamat dari pengejaran, namun untuk kembali lagi kedaerah Andulussi sepertinya sang pembunuh ini tidak mungkin. dari sini beliau terus mencari akal untuk bisa selamat sampai perbatasab ibu kota dan rencananya akan pergi ke yerussalem, namun sebelum beliau melaksanakan naitnya, salah satu dari yang mengejarnya tadi semapt melihatnya sehingga beliau dikejar kembali dan masuk kedalam hutan. Entah sudah berapa jauh sang pembunuh ini memasuki kawasan hutan, beliau baru berhenti berlari tatkala dihadapannya terhadang jurang yang sangat dalam, disitulah beliau beristirahat, namun ternyata dia bukan sendirian ditempat itu melainkan sudah ada yang lebih mendahuluinya, yaitu seekor anjing yang sedang sakit keras. dengan sorot mata yang tajam pembunuh ini terus menatap anjing yang sedang terkulai lemah karena sakit yang dideritanya, beliau lalu mendekati sianjing dan mengangkatnya sambil berkata lirih ” Wahai anjing yang malang, antara kau dan aku sama-sama menderita, kini kau menjadi temanku dan aku berjanji akan mengobati lukamu hingga kau merasa baikan”
Sejak saat itu anjing tadi selalu dalam perawatannya dan seminggu kemudian sianjing mulai sembuh dari penyakitnya. dengan riang sianjing mulai menunjukkan kesembuhannya dengan berlari kecil mengitari lebatnya hutan dan sang pembunuh sendiri merasa senang dengan anjingnya yang sudah sembuh, beliau terus mengikuti kemana anjing ini berlari kecil. terlihat keceriaan diwajah kedua makhluk berbeda sifat yang terus berlari kecil sehingga tanpa disadarinya keduanya telah keluar dari hutan rimba dan menuju dimana kota Andulussi sudah sangat dekat.
Baru sang pembunuh ini terhenyak kaget disaat salah satu masyarakat memberitahukan identitasnya, “……pembunuh…pembunuh…. pembunuh!!! dan tanpa bisa mengelak, sang pembunuh ini akhirnya dikeroyok masssa yang masih menyimpan rasa dendam padanya. disaat amukan massa mulai tidak bisa terkontrol, Abdul Qodir Al Idrus datang melerainya dan semua masyarakat yang tahu siapa dirinya langsung mundur dan berdiri di belakang Abdul Qodir Al Idrus.
Abdul Qodir Al Idrus langsung menghampiri sosok sang pembunuh dan ternyata sang pembunuh ini sudah tidak bernyawa lagi. salah satu dari masyarakat lalu maju dan memberi tahu bahwa yang dibunuh itu adalah pembunuh yang meresahkan massyarakat, jadi sepantasnya beliau mati, terang orang tadi. dengan wajah tenang, Abdul Qodir Al Idrus lalu berdiri dan berkata ” Wahai ketauhikah kalian semua, sesungguhnya yang kau bunuh ini adalah ahli surga, beliau mati dalam husnul khotimah karena amalnya yang telah merawat dan menyembuhkan anjingku dari penyakit yang dideritanya, sebagai pembuktian kuburlah dia baik-baik niscaya kalian semua akan melihatnya”
Antara takut dan penasaran, masyarakat akhirnya menguburkan jasad sang pembunuh ini selayaknya orang beriman pada umumnya dan saat penguburan telah usai, tiba-tiba dari atas langit bermunculan ratusan bidadari yang menyerukan Sholawat Nabi dengan merdunya seb agai pengiring dari orang-orang yang diterima amal kebaikannya.

Legenda Kewalian Syekh Magelung Sakti

Posted: Agustus 24, 2011 in SEJARAH

Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara Syam.
Nama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena pintar inilah beliau banyak diperebutkan kalangan guru besar diseluruh negara bagian Timur Tengah, dan sejak usia 11 tahun beliau telah menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda diberbagai tempat ternama sepeti : Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso Palestina dan berbagai tempat ternama lainnya.
Namun dalam kepribadiannya, beliau banyak dihujat oleh ulama fukkoha, dikarenakan rambutnya yang semakin hari semakin memanjang tidak terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Srifin Syam terkesan bukan sebagai seorang pelajar religius yang mengedepankan makna tatakrama seorang sufistik agung.
Hal semacam ini bukan karena Arifin Syam tidak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh ke tanah, namun beliau sediri sudah ratusan kali beriktiar kebelahan dunia untuk mencari orang sakti yang benar-benar mampu memotonga rambutnya, pasalnya sejak dilahirkan ke alam dunia, rambut Arifin Syam sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda tajam maupun alat lainnya dan kisah ini berlanjut hingga beliau berusia 40 tahun. di usisa 30 tahun beliau diambil oleh Istana Mesir dan menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan Tartar, dan dari sinilah nama beliau mulai mashur dikalangan masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti diantara panglima perang sebelumnya. sebab keumuman seorang panglima kala itu bisa dilihat dari strategi perangnya dan juga kelihaiannya dalam memainkan pedang, panah maupun tombak dikancah peperangan, namun lain dengan Arifin Syam, yang kini sudah bergelar dengan nama Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti, beliau acap kali tidak membawa pedang maupun tombak dalam memimpin pasukannya, namun beliau selalu menebaskan rambutnya yang seperti kawat baja disetiap menghadapi ribuan pasukan musuh sehingga dengan kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh pontang panting.
Kisah kesaktian rambutnya mulai mashur di usia 32 tahun dan pada usia 34 tahun beliau bertemu secara yakodho / lahir dengan Nabiyullah Hidir AS yang mengharuskan beliau mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya menuju maqom kewalian kamil. Kisah pertemuan dengan Nabiyullah  Hidir AS membuat beliau meninggalkan istana Raja Mesir yang kala itu sangat membutuhkan tenaganya, bahkan bukan hanyaitu beliau pun kerap dinantikan oleh seluruh muridnya dalam pengena (Waliyullah).
Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Mohammad Syam Magelung Sakti mulai mengarungi belahan dunia dengan membawa perahu jukung (Perahu getek) seorang diri, beliau mulai mendatangi beberapa ulama terkenal dan singgah untuk mengangkatnya menjadikan muridnya, diantara yang disinggahi beliau antara lain : Syeikh Dzatul Ulum Libanon, Syeikh Attijani Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy Bairut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan India, Syeikh Muawwiyah As-salam Malaka, Syeikh Mahmud Yerussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’allim Campa, dan masih banyak yang lainnya. Namun walau begitu banyaknya para Waliyullah yang beliau datangi, tidak satu pun dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik berkata “Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang Waliyullah”
Dengan kekecewaan yang mendalam, Moh. Syam Magelung Sakti mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari Mursyid yang diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bangsa Sanghiyang bernama Resi Purba Sanghiyang Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai selat malaka.
” Datanglah wahai kisanak di pulau Jawa, sesungguhnya disana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Wliyullah, benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli dari semua Waliyullah yang ada” Dengan perkataan sang Resi barusan, Moh. Syam sangat senang mendengarnya dan setelah pamit beliaupun langsung meneruskan perjalanannya menuju pulau Jawa.
Mungkin pembaca sekalian merasa bingung dengan perkataan Resi tadi yang menanyatakan “Benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya” seolah perkataan ini terlalu riskan di ucapkan pada seorang yang mempunyai derajat Waliyullah. Sebelum pen-meneruskan cerita selanjutnya, ada baiknya Misteri jelaskan terlebih dahulu kata bahasa tadi agar tidak salah tafsir nantinya…
Dalam pemahaman ilmu tauhid, bahwasannya tingkat ke Walian di bagi menjadi beberapa bagian dan tingkat tertinggi disini adalah Maqom Quthbul Mutlak, yang di teruskan dengan Maqom Atmaniyyah, Arba’atul ‘Amadu, Muqoyyad, Autad, Nuqiba, Nujaba ‘ Abdal, Nasrulloh, Rijalulloh dan lain sebagainya.
Diantara Wali yang ada, semua Waliyullah derajatnya dibawah telapak Quthbul Muthlak sendiri derajatnya sebagai penerus Rosululloh, yaitu dibawah ketiak atau pundaknya Nabiyulloh Muhammah SAW (Maqom Qurbah). Jadi walau Moh. Syam Magelung Sakti pada waktu itu derajatnya sudah mencapai Waliyullah Kamil, namun dalam hal Maqom, beliau belum ada apa-apanya dengan Maqom Quthbul Mauthlak yang barusan Misteri bedarkan tadi. Kami lanjutkan ke cerita semula…
Setelah Moh. Syam sampai dilaut pulau Jawa, beliau akhirnya singgah disalah satu pedesaan sambil tiada hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT, untuk cepat ditemukan dengan Mursyid yang diinginkannya, tepatnya pada malam jum’at kliwon ditengah heningnya malam yang sunyi tiba-tiba beliau dikejutkan oleh suara uluk salam dari seseorang ” Assalamu’alaikum Ya Akhi min Ahli Wilyah” lalu beliau pun dengan gugup menjawabnya ” Wa’alaikum salam Ya Nabiyulloh Hidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’alamiin.
Lima tahun sudah Ananda mencari riddhoku dan kini ananda telah mencapainya, datanglah ke kota Cirebon dan temuilah Syarif Hidayatulloh, sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja sebagai Maqom Quthbul Mutkhlak, terang Nabiyulloh Hidir AS, sambil menghilang dari pandangannya. Dengan semangat yang menggebu beliau langsung mengayuh jukungnya menuju kota Cirebon yang dimaksud, sedangkan ditempat lain Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati yang sudah mengetahui kedatangan Moh. Syam Magelung Sakti lewat Maqomnya saat itu beliau langsung mengutus uwaknya sekaligus mertuanya Mbah Kuwu Cakra Buana untuk menjemputnya di pelabuhan laut Cirebon.
Sesampainya ditempat dimana Sunan Gunung Jati memerintahkannya. Mbah Kuwu tidak langsung menghadapkannya kepada Kanjeng Sunan, melainkan mengujinya terlebih dahulu, hal semacam ini bagi pemahaman ilmu tauhid disebut “Tahkikul ‘Ubudiyyah Fissifatir Robbaniah / meyakinkan seorang Waliyulloh pada tingkat ke Walian diantara hak dan Nur Robbani yang dipegangnya.
Setelah Moh. Syam sudah berada dihadapan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau langsung uluk salam menyapanya ” wahai kisanak, taukah anda dimana saya harus bertemu dengan Sunan Gunung Jati? namun yang ditanya malah mengindahkan pertanyaannya dan balik bertanya.. ” sudahkah kisanak sholat dhuhur, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh? terang Mbah Kuwu. ditanya seperti itu Moh. Syam langsung mengangguk mengiyakan bahwa memang dirinya belum melaksanakan sholat dhuhur, lalu Mbah Kuwu mengambil satu bumbung kecil yang terbuat dari bambu “Masuklah dan sholat berjamaah denganku” Sambil terheran-heran Moh. Syam mengikuti langkah manusia aneh dihadapannya yang tak lain adalah Mabh Kuwu Cakra Buana, masuk kedalam bumbung bambu yang ternyata dalamnya sangat luas dan bertengger Musholla besar yang sangat anggun, setelah usai sholat Mbah Kuwu mengajaknya  menuju kota Cirebon, namun sebelum sampai ketempat tujuan atas hawatif yang diterimanya dari sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Moh. Syam Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi (Mbah Kuwu) adalah Sunan Gunung Jati yang dimaksud. lalu beliaupun memanggilnya tiada henti hingga keseluruhan pelosok desa.
Kisah terpotongnya rambut Moh. Syam yang kini terkenal dengan sebutan Syeikh Magelung Sakti kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor wali kota Cirebon dan tahukah anda berapa meter rambut Syeikh Magelung Sakti, sesungguhnya? yaitu 340 m, atau sepanjang jalan Karang Getas, antara perbatasan desa Pagongan hingga lampu merah pasar Kanoman. Panjangnya rambut syeikh Magelung Sakti ini sudah dapat restu dari beberapa ulama khosois seperti Syeikh Auliya Nur Ali, Syeikh Kamil Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, Syeikh Asnawi bin Subki Gedongan.
Misteri lanjutkan kembali, dengan rasa bersemangat Moh. Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong rambutnya, beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung Jati terus-menerus, pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari Panguragan. Merasa dirinya masuk gelanggang arena, Wanita cantik yang tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya… Merasa dirinya diserang secara mendadak, Moh. Syam langsung mengelak dan menjauhinya, namun bagaimana dengan Nyimas Gandasari sendiri yang kala itu sedang diperebutkan para jawara dari berbagai pelosok daerah. beliau sangat tersinggung dengan menghindarinya pemuda yang barusan masuk tadi, maka dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung melipat gandakan tenaganya untuk menglahkan pesaing yang kini sedang dihadapinya.
Dengan perasaan dongkol, Moh. Syam akhirnya memutuskan untuk melayaninya dengan bersungguh hati hingga ditengah perjalanan Nyimas Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah dibawah pemuda asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan Nyimas Gandasari berucap “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati, Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad Rosululloh” lalu beliau langsung terbang ke awang-awang dengan maksud agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. lain dengan jalan pikiran Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati disebutnya, beliau tambah berambisi utnuk mencari tahu, maka disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya terperangkap.
Merasa dirinya panik Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Moh. Syam sambil tubuhnya menukik tajam kebawah. pada saat yang bersamaan Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur disungai Kali Jaga, kedatangan Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding kearah depan Nyimas Gandasari, memohon kepada gurunya agar pemuda yang mengejarnya tidak melihat dirinya. lalu dengan menyelipkan tubuhnya dibawah bekiak kakinya, kanjeng sunan Gunung Jati berkata pada pemuda yang barusan datang dihadapannya ” Wahai kisanak, anda mencari siapa ditempat yang sepi seperti ini?” lalu Moh. Syam pun menjawabnya ” Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk meminta bantuannya, dimana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?” dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati melepaskan wujud kecil Nyimas Gandasari ke wujud semula dan meminta berterus terang dengan apa yang pernah di ikrarkan sebelumnya, yaitu wajib mematuhi janjinya untuk menikah dengan orang yang mengalahkan kesaktiannya.
Dengan perjalanan ini akhirnya Moh. Syam berganti nama dengan sebutan Pangeran Soka dan dipenghujung cerita antara Nyimas Gandasari dan Pangeran Soka akhirnya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya menuju ilmu tauhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat menjalankan nikah bisirri tanpa hubungan badan selayaknya suami istri, namun akan bersatu dengan nikah hakikiyah di alam surga kelak dengan disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Min Quthbil Mutlak ila Jami’il Waliyulloh.