Kisah Perjalanan Bencana

Posted: Agustus 24, 2011 in Uncategorized

Keasrian alam semesta yang mulai rusak ditimpa bencana yang datang silih berganti. Terik mentari yang mulai menyengat, air hujan yang mulai menenggelamkan, desiran angin yang membawa kerusakan dan hangatnya api yang menjadikan sebuah malapetaka. Bumi yang dahulu asri kini berubah menjadi air bah yang menutupi ratusan desa. Ribuan rumah penduduk menjadi rata oleh ulah bumi yang terus menjalar lewat lumpur panasnya. Pepohonan yang mulai tumbang oleh tangan manusia dan air sungai menjadi sebuah lautan yang sangat mengerikan. Angin mulai bebas berkeliaran tanpa adanya peredam dari pepohonan yang kokoh. Dasar bumi yang mulai keropos dengan kehilangan zat minyak yang terus diambil setiap hari, pertumbuhan mulai tersendat dengan banyaknya bangunan yang membuang limbah zat kimia. Kini bumi berstatus tidak aman karena kerapuhannya. Berbagai sifat bencana yang mudah menghancurkan sifat bumi membawa dampak yang sangat menakutkan, nyawa manusia bagai tiada berharga, kehancuran tempat tinggal bagai sebuah pemandangan biasa. Jerit tangis dari orang yang ditinggalkan tanpa ada rasa beban. Sebuah kecaman dan kemurkaan dari sang pencipta alam semesta bagai sebuah pelita sesaat. Dimana orang-orang akan merasa takut suatu kegelapan dan cepat mencari lentera, namun disaat terang telah tiba, lentera akan dicampakkan semudah kita mematikan lilin. Kini bencana mulai mewabah diberbagai daerah tanpa bisa kita cegah, kematian yang begitu tragis, kesedihan yang tanpa batas, amarah yang tiada bisa terlampiaskan dan kehilangan yang tiada bisa kembali lagi. Sebuah tangisan yang sangat menyayat hati kerap terdengar diantara pandangan yang tertuju pada reruntuhan dan nyawa manusia yang telah menyatu. Isak tangis dibalik cucuran air mata kerap terdengar sebuah do’a. Kapan bencana akan berakhir?. Sungguh sanagta mengerikan setetes azab yang dituangkan dimuka bumi. Dan azab ini akan terus menerus datang menerpa bumi yang kian rapuh. Sebuah keadilan benar-benar telah ditunjukkan oleh Allah SWT sebagai simbol bayaran atas kelalaian umat manusia yang lebih mementingkan hidup penuh kemaksiatan.

Lalu bagaimana mengatasinya ? semua kembali kediri kita masing-masing sebagai penghayatan intropeksi diri, bisakah kita mengendalikan hidup ini kejalan yang diridhoiNYA ? Sesungguhnya  bencana kerap terjadi karena amal manusia lebih banyak diarahkan kedzoliman, seperti yang sudah dituliskan dalam kitab Mizanul Qubro. Dalam kitab ini banyak menjelaskan tentang sebuah perjalanan bencana, kapan bencana diciptakan, karena apa bencana ada dan mulai kapan bencana ditetapkan. Inilah kisah bencana selengkapnya. Ihwal pembedaran kitab Mizanul Qubro menerangkan : Bahwa Allah SWT menjadikan sebuah bencana hanya satu kali dalam setahun, tepatnya bulan safar di penghujung hari rabu (Hari rabu paling akhir dibulan safar). Dari bencana yang sudah diberikan pada setiap diri manusia. Dan bencana ini hanya diciptakan dari setitik air yang ada dilautan luas (Ringan dan mudah diatasi). Dari setitik bencana yang telah tercipta, Allah SWT menciptakan pula penangkalnya sehingga sifat bencana tidak sampai terjadi, yaitu dengan sebuah keikhlasan hati untuk bersodakoh dimalam rabu pungkasan bulan safar. Namun melihat kenyataan yang ada, manusia lebih banyak menutup diri dalam hal bersodakoh, sehingga ketentuan dari hukum Allah SWT, lewat sebuah mizan / timbangan 70% dari makhluk hidup yang ada lebih mementingkan menghamburkan uang kejalan yang kurang bermanfaat dari pada bersodakoh mengikhlaskan sedikit uangnya menuju hidup bermanfaat. Lewat wasilah yang diambil dari kitab, Iqodzul Himam, bencana akan terus melanda diberbagai daerah seiring dari do’a manusia mulai. Semua berawal dari malasnya mereka memahami tentang keluasan ilmu agama. Kisah rentetan bencana yang bakal terjadi di seluruh permukaan bumi, jauh dizaman walisongo sudah diingatkan oleh sosok tokoh Waliyullah kanjeng Syeikh Siti Jenar. Beliau disaat detik terakhir menerima  ajalnya, lewat eksekusi hukum pancung karena dekrit pemahaman ketauhidannya yang tidak sepantasnya diajarkan kepada masyarakat awam pada masa itu, beliau mengingatkan kepada seluruh umatnya, Ingat !! Wahai kalian semua, sepeninggalnya aku nanti, sebelum datangya bulan kelahiran Rasulullah SAW, Allah SWT akan mengingatkanmu dengan bencana yang turun menghancurkan kalian semua. Sepintas, kata bahasa Kanjeng Syeikh Siti Jenar kala itu seperti bernada ancaman yang ditujukan kepada seluruh umat manusia, karena kematian dirinya yang berakhir sangat tragis. Namun bila dihayati secara tahkikul ilmi, suatu kemustahilan dari seorang derajat Waliyullah masih mempunyai perasaan dendam pada makhluk sesamanya. Ucapan Waliyullah adalah kejujuran, bahasa Waliyullah adalah Kalam Allah SWT. yang sangat benar adanya, jadi apa yang dimaksud dengan perkataan Kanjeng Syeikh Siti Jenar itu benar adanya, beliau mengingatkan kepada seluruh umat manusia untuk selalu diingat bahwa sebelum datangnya bulan Maulud dimana Rasullah SAW dilahirkan kita semua akan menapaki bulan sebelumnya yaitu bulan Safar yang mana didalamnya Allah SWT menciptakan bentuk bencana untuk mengingatkan seluruh makhluk ciptaannya agar selalu mengikhlaskan sedikit harta bendanya disodakohkan terhadap yang lebih membutuhkan, sehingga bencana yang telah tercipta menjadi sebuah rohmat untu kemanfaatan seluruh bangsa manusia.

Nah, dari kisah Syeikh Siti Jenar pula akhirnya seluruh masyarakat tanah jawa selalu diingatkan dengan adat istiadat yang hampir dilakoni oleh anak-anak saling berbondong melanjutkan pujian umur, dari satu rumah yang lain, tepatnya dimalam rabo terakhir bulan syafar, sambil meminta keikhlasan yang punya rumah untuk memberinya sekeping recehan. Namun mengapa bencana kerap terjadi dan terus membawa korban nyawa manusia. Inilah yang harus kita pikirkan secara seksama. Dalam kitab Mizanul Qubro, Allah SWT telah berjanji. Tiada yang selamat dari murkaku, sesungguhnya kalian semua adalah ciptaanku yang kapanpun selalu kuberi azab tergantung amal kalian yang diarahkan kejalanmana, kemanfaatan atau kemaksiatan. Bahkan dalam keluasan ilmu Allah SWT, yang dituliskan oleh tokoh Waliyullah Mindarojatil Quthbil Muthlak, Imam ibnul Arabi, beliau menegaskan : “Sesungguhnya Allah SWT, telah menciptakan bentuk bencana disela bulan yang telah ada (Safar) dari bentuk bencana yang hanya sepertiga tetes air ini mampu menghancurkan sepuluh gunung sekaligus, menenggelamkan daratan dengan hitungan detik dan mampu melenyapkan 700 Juta nyawa manusia disetiap detiknya”, lanjutnya. Bencana akan terus datang dimuka bumi ini karena manusia sendiri yang meminta lewat sebuah kekufuran, kedzoliman, kemaksiatan, kemunafikan dan meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajiban / ketetapan hukum. Sehingga dengan janji-NYA, Allah SWT terus memberikan peringatan kepada seluruh makhluk hidup agar bersiap diri menuju jalan hidup yang penuh manfaat. Menurut Imam Sanusi, Banyaknya bencana yang sering terjadi dimuka bumi ini adalah yang diberikan oleh orang-orang dzolim sehingga yang lain akan bisa lebih berfikir lewat kaca cermin dari bentuk musibah yang bisa kita lihat sebagai makna tafakur instropeksi diri untuk cepat-cepat beriman dan menebalkan keyakinan hati. Nah sebagai perjalanan bencana yang harus dicermati, Habib Syeikh Imam Suyuti membeberkannya sebagai berikut, bencana selalu mengiringi dimana kedzoliman telah melampaui batas hukum syar’i wal bathin, diantaranya runtuhan bencana yang terlahir dimuka bumi hampir semuanya dari ulah sifat manusia yang banyak salah kaprah dalam menjalankan arti hidup, diantaranya, Memanfaatkan fasilitas ibadah untuk tujuan politik / musyawarah yang didalamnya penuh hujatan terhadap sesama hamba Allah SWT, para Ulama yang mulai rapuh dengan imingan harta benda, zinah yang kian transparan, akal yang muali berani menyekutukan keagungan Allah SWT, manusia yang banyak putus asa dan menutup hatinya untuk terus mencari arti materi secara mudah (pesugihan) dan lain sebagainya. Sedangakn menurut Imam Ibnul Khoas, terjadinya bencana karena ulah sekelompok manusia dzolim sehingga manusia yang tidak berdosa kena imbasnya pula. Seperti yang dicontohkan dalam syarah kitab, Khomsinal Akoid, disitu dijelaskan bahwa, turunnya bencana akibat ulah sekelimut manusia yang menjual dirinya demi kebutuhan materi, dengan adanya satu orang saja berperilaku seperti ini niscaya satu wilayah (kabupaten) akan kena azabnya semua. Kembali kepemahaman bencana, yang disrikan dari kitab Mizanul Qubro. Dalam satu tahun sekali Allah SWT, menciptakan bentuk bencana, Nabiyullah Hidir AS, selaku Sulthonurrijal, yang menjaga bumi dan lautan, akan membagi bencana tersebut menjadi empat bagian yaitu pada sifat bumi, air, api dan angin. Sifat bumi. Mencakup bermacam bentuk bencana seperti, bencana yang terlahir dari lava gunung, bebatuan, pepohonan, dan alat yang dibikin oleh manusia (transportasi). Sifat air. Mencakup bentuk bencana, seperti bencana yang terlahir dari bentuk air bah, ikan yang memakan manusia, karang yang bisa membelah kapal dan lain sebagainya. Sifat api. Mencakup satu sifat yaitu, bencana yang terlahir dari bentuk bara api. Sifat angin. Mencakup keseluruhan sifat alam dan dari sifat angin ini bencana lebih banyak terjadi.

Sebuah dhaukiyah dari Habib  Nur Ali perjalanan bencana selama satu tahun ini apabila tidak ada yang bisa mencegahnya, niscaya segala bencana ini akan mempunyai jumlah yang setiap saat bisa meluluh lantakkan alam jagat raya. Yaitu 1.700 bencana alam setiap tahunnya. Dan bencana ini terbagi kedalam empat sifat yang berbeda (400 bencana dibawah oleh sifat bumi, 300 bencana dibawa oleh sifat air, 170 bencana dibawah oleh sifat api dan 830 bencana lainnya dibawa oleh sifat angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s