Pangeran walangsungsang dan Mustika Sereh Lanang (Bag- 2)

Posted: Agustus 24, 2011 in Uncategorized

Kisah bagian kedua ini menceritakan tentang perjalanan pembuatan minyak Semar Ireng, yang di dalamnya sarat makna dan manfaat kehidupan. Inilah kisah selengkapnya.

Bermula dari acara Milad ke 5, yang baru saja diselenggarakan kemarin tgl 18,19 dan 20 September 2010, yang mana sesudahnya acara ini selesai, saya dipanggil oleh guruku yang menyatakan bahwa kemarin malam, sejumlah bangsa abdul jumud (sebangsa jin) protes atas sikapku mengadakan Milad ke 5, yang tidak menghormatinya.

Disini saya pribadi merasa bingung atas ucapan guruku, namun setelah beliau menerangkan secara detail, saya baru paham duduk permasalahan sesungguhnya, ternyata bangsa abdul jumud, ingin di hormati sebagai layaknya manusia pada umumnya.

Mereka menuntut agar diriku menghormatinya dengan cara menyembelih kambing berbulu hitam legam dan guruku sendiri saat itu memberikan pandangannya secara luas, diantara tausiahnya guruku kala itu:

Tidak ada salahnya kita menghormati mahluk tak kasat mata, sebab Allah, telah menjadikan alam semesta ini dengan dua jalur yang berbeda. 1. Jalur ilmu, wasilah ini tidak akan pernah dimiliki oleh mahluk manapun kecuali bangsa Malaikatulloh, Nabi dan para Wali (manusia). 2. Jalur keamanan, dimana rusaknya alam, kehancuran bumi dan kerusakan lainnya, semua tak lain akibat kerjaan abdul jumud, yang merasa dirinya paling benar sebagai wasilah keamanan bumi dan alam lainnya. Jalur ini hanya dimiliki oleh mereka para Abdul Jumud, yang hanya tunduk kepada baginda Nabi Hidir AS, dan Allah telah menempatkan derajat keamanan ini hanya untuk mereka dan bukan dipegang bangsa Malaikatulloh, Nabi maupun waliyulloh. Jadi dengan menghormati mereka sama halnya kita menghormati keamanan daerah kita sendiri” terang guruku.

Dari ulasan guruku ini, saya beserta anak majlis jam’ul Ijazah, segera melaksanakan tugasnya mencari kambing hitam legam dan alhamdulillah hari itu juga Allah telah menemukan apa yang kami cari.

Pagi harinya kambing itu saya potong dan seluruh dagingnya kami berikan kepada orang yang membutuhkan dengan satu niat untuk menghormati seluruh wadyabala abdul jumud.

Tanpa dinyana,  proses ini dilihat oleh Kanjeng Sulthan Hasanuddin Banten, yang pada malam harinya beliau datang membawa hadiah buatku, yaitu berupa daun sirih hitam “Anakku…..atas khidmatmu terhadap perintah gurumu, dan atas keihlasanmu memberikan apa yang abdul jumud minta, ini terimalah hadiah dariku dan berikan kepada gurumu

Siang itu saya menjumpai guruku dan menceritakan semuanya, lalu guruku langsung mengamati daun sirih hitam setelah saya menyerahkan kepadanya.

Masya Allah, ini bukan daun sembarangan melainkan pusaka dari lambang Semar ” terangnya.

Entah apa maksud dan tujuan guruku, yang jelas saya tidak mempunyai bersitan apapun kala itu kecuali rasa puas karena sudah melaksanakan titahnya yaitu, menyembelih kambing hitam yang diminta oleh bangsa abdul jumud.

Besoknya saya datang lagi atas perintahnya, namun pertemuan kali ini membawa senyum simpul buatku, pasalnya tanpa terduga saya mendapatkan dua hadiah sekaligus  yaitu Pusaka Sereh lanang dan ajian Semar Ireng.

Dris….tadi malam saya mengusulkan kepada Allah, tentang daun sirih hitam yang melambangkan sifat semar, ternyata daun itu awalnya kepunyaan Mbah Kuwu cakra Buana, yang diberikan kepada Sulthan Paku bumi Banten Hasanuddin dan lewat sirih hitam itu pula, Mbah Kuwu, menghadiahkanmu ini (tombak bumi sereh lanang dan ilmu ajian semar ireng) ilmu ini hanya ada satu di dunia, sebab semar ireng cuma kamu seorang yang diberikan secara langsung oleh Abi Kuwu. Wasilah ini sangat cocok buatmu untuk suatu wasilah pengasihan dan derajat” Tambahnya.

 

Dari sinilah kami beserta anak Jam’ul Ijazah, langsung meraciknya dengan sekuat tenaga dan hasilnya sungguh diluar dugaan, minyak Semar Putih mengandung tuah dan kekuatan sampai 170% tingkat pengasihan diatas minyak Semar putih yang hanya mencapai 98%.

Dan bagi pembaca sekalian, sekedar kami beritahukan atas pelajaran sesudahnya memiliki pusaka Sereh Lanang, saya pribadi akhirnya sering bertemu secara yaqodho (lahir) dengan Mbah Kuwu Cakra Buana, yang kata beliau menjelaskan secara rinci, bahwa ilmu semar terbagi menjadi 5 tingkat.

1.  Semar Mesem, menurutnya ilmu ini bersifat umum dan dalam kategori terendah dari keseluruhan ilmu pengasihan bersifat Semar. Yaitu berkekuatan 67%.

2.  Semar Kuning, menurutnya ilmu ini lebih terfokus terhadap sifat dunyawiyyah atau kerejekian, yang diambil dari segi pembawaan yaitu pengasihan/ pengeretan, berkekuatan 77%.

3.  Semar Putih, menurutnya ilmu ini mempunyai spesifikasi kearah pencegahan atau kerusakan rumah tangga (tidak sampai cerai) berkekuatan 98%.

4.  Semar Ireng, menurutnya ilmu ini mempunyai dua jalan berbeda namun satu keinginan, Pengasihan dan Derajat. Berkekuatan 170%.

5.  Semar Lungguh, menurutnya ilmu ini mempunyai martabat paling luhur dari semua pengasihan bersifat Semar, bertujuan kearah raja atau ratu (menang dalam segalanya) berkekuatan 201%.

 

Dan diantara pembaca, bila anda kurang puas dengan pembedaranku, ada banyak persamaan ilmu namun beda jalur, namun pada intinya setiap ilmu harus ada pusaka kuncinya yang menjadi andalannya sebagai bukti wujudnya ilmu nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s