Perjalanan Tauhid | Bagian 1

Posted: Agustus 24, 2011 in Uncategorized

Dalam mengenal hukum Islam, Ilmu Tauhid wajib diketahui oleh seluruh umat manusia yang telah menginjak taraf dan apabila sampai tidak mengtahuinya, menurut Iman Sanusi, hukumnya seperti bukan orang Islam (langsung digolongkan ahli neraka setelah kematiannya kelak).

Tahud sendiri dibagi menjadi dua bagian :

  1. Tauhid Syar’i
  2. Tauhid Hakiki

Tauhid Syar’i adalah mengenal Allah, dengan dalil-dalilnya. Sedangkan inti dari ” Tauhid Hakiki”, mengenal kebesaran Allah SWT, secara Tajalli (lepasnya jiwa antara yang tercipta dan yang menciptakan) baik lewat Asma, Sifat, Af’al dan Dzat Allah secara keseluruhan. Dari keluasan Ilmu Tauhid ini akhirnya menjadikan kita mengerti seputar derajat KeWalian yang terdapat pada manusia (Hamba) serta memahaminya kita terhadap arti Islam, Iman, Ihsan dan lainnya secara terperinci, luas dan bisirri, secara pandangan ilmu tauhid sebenarnya.Tahapan Ibadah

Disini terbagi menjadi dua bagian :

  1. Ibadahnya orang awam
  2. Ibadahnya Solihin Ma’rifat Billah
  1. Yang dimaksud dengan ibadahnya orang awam, mereka wajib mengikuti syariat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti yang terdapat pada rukun Islam, Yaitu, memegang makna syahadatain, wajib menjalankan sholat 5 waktu, wajib membayar zakat fitrah, wajib puasa di dalam bulan Ramadhan dan wajib berhaji bagi yang mampu. Secara makna tafsir, “memegang makna Musyahadah dalam segala tingkah laku lewat Morqobatu Nabi dan Muroqobatullah”. Sedangkan makna shalat, mempererat bathiniah dengan selalu mengingat keagungan Allah SWT (Do’a). Lalu makna zakat, memberi kebajikan secara terus menerus (bagi yang mampu) kepada yang membutuhkan (lainsyakartum la azidannakum) dengan satu pemahaman Musyahadah,”apapun rejeki yang kita punya tak lain semuanya milik Allah dan kita sebagai hamba sekedar mejalankan perintahNya”. Makna puasa dibulan Ramadhan adalah pencucian hati dan pikiran untuk berbuat baik dengan meningkatkan makna takwa kepada Allah SWT.
  1. Ibadahnya Ahli Solihin Ma’rifatillah. Dimanapun mereka ditempatkan, niscaya hati dan pikirannya tidak berubah untuk selalu bermunajat dan mengingat kebesaran Allah SWT. Golongan ini disebut maqom Ahlillah atau Ahli Rosul yang hati dan pikirannya tidak mempunyai bersitan was-was, ragu maupun bimbang dalam segala persoalan hidup, sebab mereka tergolong “Muamalatul Qulub Awil Arwah / tidak melihat zaman, waktu dan tempat”. Maksud dari perkataan tadi, mereka lebih mengarahkan hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Allah SWT, sehingga dalam kitab “Iqodzul Himam” dijelaskan sebagai berikut :

“Sesungguhnya satu waktu bagi maqom Ma’rifat Billah, sebanding dengan ibadahnya orang awam seumur hidup” atau dalam katalain, “Dua rokaat ibadahnya ahli Ma’rifatillah, sebanding dengan kebajikan’ Ibadahnya orang awam sepanjang masa”. Secara makna luas “Dimanapun mereka ditempatkan, maka tempat itu adalah Arofahnya dan setiap waktu baginya adalah Lailatul Qodarnya secara muthlak”. Sebelum kita pahami lebih luas makna tauhid sesungguhnya, ada baiknya mengenal dulu makna Ikhlas yang terbagi menjadi tiga bagian :

  1. Ikhlas Khusussuk Khusus, yang artinya,”Ibadah murni karena Allah SWT seperti ibadahnya Maqom Kholil, Hub, Syareatul Khotam, dan maqom kesempurnaan lainnya”. Maqom ini mendahulukan makna takwa dengan menjaga sifat ke Tuhanan secara keseluruhan (Allah)
  2. Ikhlas Ahlul Khusus, suatu tahapan ibadah yang masih mempunyai tujuan khususiah, seperti minta derajat, surga dan maqomat lainnya.
  3. Ikhlas Ahlul Umum, Ibadah karena Allah, tapi masih punya pamrih, seperti, minta rejeki, pangkat, derajat dan lainnya (Ibadah Birroja’).

Pemulaan Yang Wajib Diketahui Orang Islam

Bagi keseluruhan kaum Muslimin / Muslimat, wajib memahami 3 bagian dasar .

  1. Islam (menjaga tingkah laku)
  2. Iman (menjaga makna yakin tanpa terbersit rasa keraguan)
  3. Ihsan (melestarikan sifat kebajikan secara istikomah karena Allah)

Dari ketiga sifat ini semuanya saling berkesinambungan satu dengan lainnya, sebab Iman tanpa didasari Islam, Kurang sempurna dalam mengenal keyakinan kepada Allah dan RasulNya, juga Iman tanpa didasari pemahaman Ihsan pada akhirnya kurang berkualitas (tidak bisa naik). Iman dalam pandangan Al-Qur’an adalah menjaga segala tingkah laku sesuai anjurannya atau dalam kata lain ,” Keyakinan yang disertai tingkah laku”, Maksud dari pembedaran tadi,”Menjaga tingkah laku dari makna maksiat dan menusatkan hati serta pikiran kita dengan selalu memohon ampunanNya”. Bila sudah mengikuti aturan ini, makna orang tadi sudah tergolong maqom Mahfud, yang selalu mengistiqomahkan makna kebajikan hingga menjadi Nur (yang dijaga oleh Allah) dan maqom ini tergolong Ahlillah atau maqom Ihsan.

Sedangkan “Ihsan” secara rinci terbagi menjadi dua bagian.

  • Muhasabah (Muroqobatul Ahwal),”Kebajikan yang dilestarikan dan menjaga sifat atau tingkah laku kita dengan dilandasi hukum syar’i secara sempurna”. Cara seperti ini disebut (Ihsan yang masuk pada makna Islam).
  • Muroqobah,”Kebajikan yang dilestarikan dengan cara beristiqomah, karena seakan-akan kita melihat Allah, atau meyakini bahwa Allah melihat kita, seperti memudawamkan asma Allah secara tartibul lisan dan menjaga tingkah laku dari maksiat, serta melestarikan kebaikan secara terus menerus”. Cara seperti ini disebut (Ihsan yang masuk pada makna Iman).

Dalam pandangan lain, penyatuan antara Ihsan, Iman, apabila sudah bisa dilaksanakan maka disebut “Fima Akomahullah” / menseleksi tingkah laku atau tetap menjaga kebajikan iman yang sudah kita pelihara. Dari dua sifat tadi apabila kita mampu melaksanakannya secara istiqomah, maka timbul suatu karomah atau derajat Wilayah yang mempunyai sifat “Kun Fayakun” sebagai maqom teragung menjadi Waliyullah Kamil (Maqom Qurbah). Tahapan ini sudah bisa dikategorikan sebagai seorang Waliyullah, yang mengerti antara satu Wali dengan Wali lainnya. Sebab siapapun yang sudah memegang peranan ini niscaya dengan keagungan dan janji Allah SWT, mereka tergolong orang yang diberikan kekuatan penglihatan (Basyarotul ‘Ain dan Basyatul Qolbi) serta ke i’tidalan hati dalam segala pandangan lahir maupun mata bathin. Namun untuk bisa mencapainya, diwajibkan menjaga kezuhudan dan ketaatan kita kepada Allah SWT “Fima Aqomahullah / dimanapun kita berdiam diri, maka disitu pula tingkah laku, hati dan pikiran kita selalu ingat  Allah SWT”. Sebagai tambahan, Ihsan yang berhubungan dengan makna “Muroqobah” dibagi menjadi dua tingkatan :

  • Maqom Syuhud
  • Maqom Muhadoroh

Perjalanan Mengenal Kesempurnaan Islam

Sebelum mengenal makna Islam, setiap manusia punya dua kategori perjalanan hidup, baik lewat ilmu pengetahuan maupun secara hukum kitab, cara seperti ini menurut pemahaman Ulama terbagi menjadi dua bagian :

  1. Dengan cara Bil Ahkam (Memegang hukum kitab seperti Al-Qur’an, Hadist dan kita Warosatil Ambiya) sebagai tuntunannya.
  2. Dengan cara Biddhaukiyyah wabisuhbati Rijal (Lewat pemahaman dhaukiyah, menuju kebajikan atau menemani ahli-ahlinya Allah) dengan cara bertafakkur maupun mudawamah bidzikrillahi tathmainnal qulub atau kedua-duanya, Bil Ahkam dan Billah.

Bila sudah mengerti dengan pembedaran tadi, selanjutnya kita akan mengenal keagungan Allah SWT, lewat Kitabbullah maupun secara dhaukiyyah. Disini kami contohkan salah satunya dengan memahami sifat yang jauh sudah dujadikan oleh Allah, sebagai makna Tafakur Tajalli fil Af’al dan sifat, seperti adanya bumi, langit, tumbuhan, air dan seluruh sifat alamyang bisa kita lihat maupun kita rasakan keberadaannya seperti angin dan makhluk lainnya. Untuk bisa mencapai kesemuprnaan Islam, kita haruskan mejnaga tiga hal yaitu :

  1. Taubat
  2. Takwa
  3. Ostiqomah

Makna Taubat. Dari kejelekan menuju kebaikan dan dari kebaikan menuju yang lebih baik, seperti, selalu memohon ampunan kepada Allah SWT, Atas segala dosa dan kelalaian yang pernah kita perbuat, juga selalu memberikan manfaat serta menjauhi segala laranganNya dan memanfaatkan waktu yang ada menuju jalan ketaqwaan (seperti sifat Rasulullah SAW). Juga seperti contoh yang diambil dari hikayat doa Nabiyullah Adam AS, sewaktu beliau dikeluarkan dari surga Majazi “Robbana dzolamna anfusana waillam tagfir lana watarhamna lanakunanna minal khosirin”. Do’a ini menceritakan “Walau Nabi Adam AS, tahu yang menjadi beliau diusir dari surga akibat rayuan syaitan terkutuk, namun dalam do’a tadi sama sekali tidak mencantumkan nama syaitan sebagai wasilahnya melainkan beliau menyalahkan dirinya sendiri “Dzolamna anfusana / dzolimku karena ulahku sendiri”.

Makna Takwa. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan cara menghilangkan rasa malas agar bisa mendekatkan diri kepada Allah. Juga menjadikan setiap hela nafas kita kalam maupun ucapan asma Illahiyyah sehingga dengan cara ini mulut kita selalu dijaga, emosi selalu terkontrol, pemahaman selalu diarahkan dalam kebajikan dan lain sebagainya.

Makna Istikomah. Menjaga keseimbangan amal dalam menjalankan makna hidup sebenarnya. Yang dimaksud disini adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya seperti, melestarikan makna sodakoh secara istiqomah, menjalankan pendekatan diri lewat dzikir maupun tafakkur, menata badan dan fikiran agar selalu bersih dari sifat yang kurang diridhoi oleh Allah dan lain sebagainya. Dengan kata lain, Istiqomah kita tetap terjaga dengan terus bertaqwa kepadaNya.

Mengenal Ihsan Secara Sempurna

Ihsan bisa sempurna melalui (3) bagian :

  • Muroqobah / Muhadhoroh  (sepertinya Allah selalu hadir dihadapan kita)
  • Musyahadah (pandangan kita selalu tertuju kepada Allah)
  • Ma’rifat (memahami Allah dan ciptaannya secara adab)

Yang dimaksud “Muroqobah, (dimana kita ditempatkan, disitu pula bisa merasakan seolah hadirnya Allah SWT”. Dan dengan kerushukhan hati ini akan menjaga dari segala yang dilarang dan meningkatkan makna yakin sehingga menjadikan tingkah laku kita tetap terjaga. Muroqobah ini termasuk “Mim Babi Wahua Ma’akum Ainama Kuntum”.

Yang dimaksud dengan arti ”Musyahadah, (dengan seringnya kita mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, niscaya keyakinan yang kita miliki terus bertambah) dan cara seperti ini menjadikan apapun yang kita rasakan, pada akhirnya akan kembali lagi kepada Allah “Mim Babi, Allahu Nurussamawati Wal-Ard” atau “Ainama Tuwallu Fatsamma Wajhullah”

Sedangkan makna ”Ma’rifat” (orang-orang yang memahami tentang adabnya Allah dan Rosulnya). Disini termasuk mereka yang bisa memahami makna “Asyhadu Anla Ilaha Illallah, Wa asyhadu anna Muhammadar Rosulullah” dan dalam maqom ini tidak bisa dinilai sejauh mana adab kita kecuali dengan panduan Mursyid tau dengan keluasan Imu yang kita miliki secara dhaukiyatul kamil / pemahaman yan mampu menyelami Imu bangsa ke Tuhanan.

Sebagai suatu kewaspadaan dalam menjalankan arti hidup, Islam, Imam dan Ihsan, Bisa hancur sampai keakarnya akibat “Murtad dan Musyrik”. Sedangkan Islam, bisa lemah akibat perbuatan maksiat. Iman, bisa lemah akibat tidak bisa menjaga keyakinan. Dan Ihsan, bisa lemah akibat tidak bisa menjaga pandangan (selalu memandang makhluk lain).

Kuatnya Islam terlahir akibat “Muhafadoh” / menjaga tingkah laku dan ucapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s