Seruan Para Rijalullah Bumi Menyikapi Dunia Diambang Tutup Usia

Posted: Agustus 24, 2011 in Uncategorized

Seiring akhir zaman, dimana di dalamnya terdapat beraneka ragam musibah dan bencana, kini para Rijalullah Bumi telah menyerukan kepada seluruh ummat di dunia, Peliharalah akhlak dan amalmu sebaik mungkin. Sesungguhnya sebentar lagi bumi akan mengakhiri usianya. Keaktifan alam sejak diturunkannya Adam AS dan Saidah Siti Hawa kepermukaan bumi ini. Semua sifat alam telah diperintahkan untuk selalu menjaga dan memberikan kebutuhan hidup sebagai suatu pengabdian sampai akhir zaman kelak. Berjuta tahun pengabdian sifat alam masih dijalani hingga kini. Namun seiring zaman bertambahnya para manusia yang bertengger diatas bumi ini, sifat alam mulai goyah dan tak sekokoh dulu lagi. Semua ini bukan semata karena banyaknya manusia dari zaman ke zaman, melainkan karena bertambahnya dosa yang menumpuk atas kedzoliman para makhluk bumi, sehingga alam dan lainnya tak kuat lagi menopangnya. Kini seluruh sifat alam mulai berontak dan terus memohon kepada sang pencipta alam semesta. Bumi dan Laut sudah lebih dahulu memohon untuk mengakhiri hidup bersama para manusia diatasnya. Sebab, bagaimanapun kuatnya sifat alam untuk menjaga alam jagat raya ini, mereka hanya sebuah af’al (ciptaan) yang tentu mempunyai kekurangan, yaitu : kefanaan /rusak. Dalam suatu sifat fana yang dimilikinya, toh, lambat laun semuanya akan berakhir dengan kehancuran. Kini sudah banyak terbukti! Berbagai bencan alam musibah terus silih berganti menggenangi seluruh belahan jagat raya. Kerapuhan sifat alam yang disebabkan oleh dosa para makhluk yang terus menindihnya sejak zaman Adam AS. Hingga kini, membuat sifat alam mengalami berbagai kerusakan dan kefatalan nyawamanusia didalamnya. Lantas, bagaimana dengan perputaran sifat alam yang masih aktif seperti sekarang ini. Toh, katanya semua sifat alam sudah mau tutup usia. Inilah jawaban secara, sebenarnya.Dalam satu perkumpulan pengajian dirumah, Al Habib Syekh Mindarajatil Wilayah Wa Quthbul Mutlak Fi Hadzaz Zaman. Beliau berujar di depan 10 santri pilihannya. Empat hari sebelum terjadinya gempa di Indramayu, 09 Agustus 2007, kurang lebih penturannya sebagai berikut : Bagaimana harus menyikapi suatu keadilan yang telah dipercayakan kepadaku. Apabila keadilan itu datangnya dari sifat alam yang menuntut atas segala dosa dan kedzoliman para makhluk hidup yang terus menindihnya. kini bumi dan laut telah datang dengan wujud aslinya. Mereka menuntut dengan wajah garang membara. Lantas apakah aku harus berdiam diri dengan tuntutan mereka atas sifat koharnya (keras). Beliau melanjutkannya lagi. Sebentar lagi, sifat alam akan murka dengan rapuhnya dasar bumi yang sudah membara. Kini kita sebagai manusia yang menjalani syareat derajat dirinya harus melerai dan bisa meredam dari segala sifat kohar alam. Mari kita bersama-sama menyerukan asma kebesaranNya. “Allahu Akbar”. Secara istiqomah, ikhlas dan terus memohon. Semoga bencana ini dijauhkan dari marabahaya sifat manusia. Amin. Dalam keadaan genting seperti ini, mereka para Rijalullah bumi terus tak henti-hentinya memohon pada sang pencipta alam semesta untuk keselamatan seluruh umat manusia di dunia. Lantas, bagaimana dengan manusia itu sendiri? Apakah mereka juga berfikiran seperti halnya para Rijalullah? Wallahu’alam. Yang jelas Rabu malam (08 Agustus 2007), pukul 21.15 wib, angin puting beliung tiba-tiba datang dari arah timur menuju laut Cirebon dengan kencangnya. Angin itu meliuk-liuk di tengah lautan lepas, tanpa henti-hentinya. Suara gemuruh yang ditimbulkan dari kencangnya angin putting beliung, membuat pinggiran pesisir Cirebon terasa runtuh. Tapi anehnya, angin putting beliung hanya berputar-putar diatas lautan Cirebon saja, tanpa menyentuh apalagi merusak perumahan penduduk setempat dan kejadian ini hanya berkisar 4 menitan, setelah itu raib entah kemana. Baru pukul 00.15, bumi bergetar hebat sampai terasa dirumah Misteri. Dan setelah dapat informasi langsung dari salah satu stasiun televisi swasta, ternyata apa yang diucapkan sang Habib, benar adanya. Yaitu, gempa dengan berkekuatan 7 sr. tepatnya di laut Indramayu, Jawa Barat. Dari kejadian bencana ini. Misteri dapat satu kabar dari salah satu santri pilihannya, yaitu seorang bocah wanita. Dia berujar, “Sesungguhnya bencana ini hanya 5% saja dari aslinya. sebab 4 hari sebelumnya semua ini terjadi, para malaikat sudah memberi tahu, akan datang suatu gempa yang akan menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Empat kali lipat lebih besar dengan bencana yang pernah terjadi diwilayah Aceh. Kita semua wajib bersyukur, karena masih ada yang mau meredam segala bencana, demi seluruh ummat manusia di dunia. Tambahnya. Menurut anak itu, dari salah satu santri sang Habib lainnya. Mengapa disebut anak ajaib? Dia adalah seorang bocah perempuan yang baru berusia 9 tahun, namun dalam kehidupannya, beliau langsung diajarkanoleh Rasulullah SAW, sehingga dalam usia yang masih dibilang bocah ini sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz. Sebelum terjadinya gempa di indramayu, malam itu si bocah ini kedatangan Rasulullah yang mengabarkan, Cepat-cepatlah adzan sebanyak 7x dan ditutup iqomqh. Niscaya tempat ini akan selamat dari berbagai sifat kerusakan. Tak kalah menariknya dengan kisah mereka. Tiga malam berturut-turut banyak melihat fenomena keagungan Illahi. Seperti melihat secara mata telanjang, bulan terbelah menjadi dua, alngit bercahaya bintang bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Bulan mengeluarkan 7 sinar terang membentuk lafadz “Ya Haiyu Ya Qayyumu” dan makam keramat waliyullah Pangeran Anom Weru yang berada disamping rumah Misteri, setiap malam mengeluarkan sinar kuning terang benderang. Dari beragam macam fenomena ilahiyah selama 3 malam berturut-turut yang bisa disaksikan oleh mata kita Misteri sempat bersyukur. Mungkin inilah keagungan Allah SWT yang pernah misteri lihat, dan belum tentu dalam seumur hidupku akan bisa melihatnya lagi.

Hanya sekedar penyampai lisan dari kewaskitaan para Rijalullah bumi, kini para Rijal lain telah raib dari muka bumi ini, karena suatu alasan. Mereka ingin hidup tenang dengan menjauhi makna duniawi, pindah kesuatu alam kewalian (thurobi) selamanya, diantaranya Habib Syeikh Tsamri Al-Athas dan Waliyullah besar, Raja Islam Al-Wustha. Dengan bertambahnya sedikitnya para ahlillah bidarajul jalalah (manusia yang dikaruniai sifat-sifat mulia sebagai penjaga keamanan bumi), mereka berpesan unyuk semua ummat manusia didunia. Bencana susulan akan terus ada dijagat raya ini, berbagai sifat manusia akan mudah emosi dalam segala hal karena kecuraman hati, jauh dari aqidah dan pemahaman tentang ilmu agama. Bencana ini akan terus datang sebagai tasbih / adapt akhir zaman. Kini bencana akan terus hadir dengan beraneka macam bentuk dan sifat kelakuannya. Dimulai dari bentuk yang dibuat oleh manusia sampai bentuk yang berasal dari sifat alam. Kini hanya satu pangkalnya, istiqomahkanlah membaca ayat “Allahu Akbar 100x (dalam sehari) dan bersodaqolah lewat para anak yatim dan orang tak mampu lainnya. Cukup 1 Minggu sekali (seikhlasnya). Perbanyaklah tafakur dalam intropeksi diri atas segala kelalaian yang pernah kita perbuat sebelumnya dan carilah pembimbing mulia sebagai tongkat hidup menuju jalan sakinah, karena hanya jalan inilah kemurkaan alam bisa teredam.

Semoga dengan ulasan ini, selaku manusia dhoif, dan seluruh masyarakat Indonesia lainnya, dijauhi akan segala marabahaya yang sewaktu-waktu datang tanpa kita ketahui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s